Bisnisnews.net || OISCA Indonesia Sukabumi Training Center secara resmi menutup rangkaian kegiatan Training Utama Angkatan ke-40 dan OISCA Japanese Language Course (OJLC) ke-6. Penutupan kegiatan berlangsung di lingkungan OISCA Indonesia, Kampung Cimenteng, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Minggu (8/2/2026).
Meski digelar secara sederhana, suasana penutupan berlangsung khidmat dan penuh makna. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum OISCA Indonesia, jajaran pengurus pusat, Direktur OISCA Sukabumi Training Center, Camat Cikembar, para peserta pelatihan, serta alumni OISCA dari berbagai angkatan.
Ketua Umum OISCA Indonesia, Dr. Tengku Khaidir Abdurahman menjelaskan bahwa program pelatihan ini merupakan agenda rutin OISCA Indonesia dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkarakter, mandiri, serta memiliki keterampilan yang aplikatif di masyarakat.
“Program training utama dijalankan selama sembilan bulan, sedangkan pelatihan bahasa Jepang berlangsung lima bulan. Hari ini kita menutup seluruh rangkaian kegiatan tersebut secara resmi,” ujarnya kepada awak media.
Ia berharap, seluruh peserta mampu memanfaatkan ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan sebagai bekal pengembangan diri, sekaligus memberikan kontribusi nyata di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Ilmu yang mereka dapatkan di sini diharapkan bermanfaat untuk diri sendiri, dan selanjutnya bisa dirasakan dampaknya oleh masyarakat sekitar,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Tengku Khaidir mengungkapkan bahwa OISCA Indonesia secara konsisten membuka peluang bagi peserta berprestasi untuk melanjutkan pembelajaran ke Jepang sebagai bagian dari pengembangan kapasitas dan wawasan global.
“Peserta yang menunjukkan prestasi dan dedikasi akan diberikan kesempatan untuk kembali belajar ke Jepang, sebagaimana yang sudah kami lakukan selama ini,” jelasnya.
Ia juga menyinggung bahwa pelaksanaan program sempat terhenti akibat pandemi COVID-19. Namun saat ini, kegiatan pelatihan mulai kembali berjalan secara bertahap.
“Pasca pandemi, kami mulai mengaktifkan kembali program-program pelatihan yang sebelumnya sempat vakum,” ungkapnya.
Untuk angkatan kali ini, peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, hingga Jawa Barat, dengan mayoritas berasal dari Sukabumi.
“Selain faktor lokasi, pertimbangan biaya juga menjadi alasan mengapa peserta dari Jawa Barat, khususnya Sukabumi, cukup dominan,” terangnya.
Dr. Tengku Khaidir menegaskan bahwa OISCA Indonesia menjalankan seluruh program secara mandiri tanpa dukungan dana dari pemerintah.
“Kami tidak menerima bantuan pemerintah. Biaya yang dikeluarkan peserta sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan mereka selama proses pendidikan dan pelatihan,” tegasnya.
Adapun materi pelatihan difokuskan pada pertanian terpadu yang mencakup pertanian umum, peternakan, keterampilan meubel, hingga perbengkelan sebagai bekal dasar bagi para peserta.
“Walaupun waktunya terbatas, peserta dibekali dasar-dasar keterampilan dari berbagai bidang agar memiliki kemampuan yang beragam,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, ia menekankan pentingnya kemandirian dan kedisiplinan waktu sebagai kunci keberhasilan setelah menyelesaikan pelatihan.
“Disiplin memanfaatkan waktu adalah hal utama. Sesuatu yang bermanfaat akan memberikan hasil maksimal jika dijalankan dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya.***
Editor : M. Nabil
(IFU)