Bisnisnews.net – Kondisi harga barang dan jasa di Kota Sukabumi sepanjang Mei 2026 masih relatif terkendali. Hal itu tercermin dari tingkat inflasi yang tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Barat maupun nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi bulanan atau month to month (mtm) Kota Sukabumi pada Mei 2026 berada di angka 0,14 persen. Sementara inflasi tahunan atau year on year (yoy) tercatat sebesar 2,88 persen.
Sebagai perbandingan, inflasi bulanan Jawa Barat mencapai 0,24 persen dan nasional sebesar 0,28 persen. Adapun inflasi tahunan Jawa Barat berada di angka 3,07 persen, sedangkan nasional mencapai 3,08 persen.
Capaian tersebut menunjukkan tekanan kenaikan harga di Kota Sukabumi masih lebih rendah dibandingkan wilayah lainnya. Meski demikian, beberapa komoditas pangan masih menjadi penyumbang inflasi selama Mei lalu.
Kenaikan harga cabai merah dan bawang merah menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan inflasi. Kondisi tersebut dipicu meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Raya Iduladha serta faktor musiman yang memengaruhi pasokan komoditas di pasaran.
Selain bahan pangan, gejolak harga energi di tingkat global juga turut memberikan dampak terhadap pembentukan inflasi di daerah.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, tren penurunan harga emas dunia turut membantu menahan laju inflasi sehingga tidak mengalami kenaikan yang lebih tinggi.
Melalui akun resmi media sosialnya, Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Sukabumi menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor, pelaksanaan program Gerakan Pangan Murah, serta pemantauan rutin terhadap harga dan ketersediaan sejumlah komoditas strategis di pasaran.
Pemerintah berharap berbagai langkah tersebut dapat menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia dengan harga yang terjangkau.
Dengan inflasi yang masih berada di bawah rata-rata provinsi dan nasional, kondisi ekonomi daerah dinilai cukup stabil di tengah dinamika harga pangan dan ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.***(RAF)
Editor : M. Nabil