Bisnisnews.net || Dugaan beredarnya konten yang dinilai bermuatan child grooming dan diduga melibatkan seorang guru sekolah dasar di Sukabumi memantik perhatian luas masyarakat. Menanggapi isu tersebut, Psikolog sekaligus anggota Kelompok Kerja Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dikdik Hardy, menekankan bahwa child grooming tidak dapat disederhanakan sebagai bentuk kedekatan antara orang dewasa dan anak.
Menurut Dikdik, child grooming merupakan rangkaian tindakan manipulatif yang dilakukan secara sistematis oleh orang dewasa untuk membangun rasa percaya dan ikatan emosional dengan anak, dengan tujuan tersembunyi yang merugikan korban.
“Child grooming adalah proses manipulasi yang bertujuan membangun hubungan, kepercayaan, serta kedekatan emosional dengan anak atau remaja, yang pada akhirnya mengarah pada eksploitasi,” ujar Dikdik, Minggu (8/2/2026).
Ia menjelaskan, pelaku kerap membungkus niatnya melalui perhatian dan pendekatan emosional yang tampak wajar, namun sejatinya bersifat semu. Pola tersebut membuat korban sulit menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam situasi manipulatif.
“Kuncinya ada pada niat tersembunyi pelaku. Pendekatan emosional digunakan sebagai strategi psikologis agar korban merasa aman, padahal sedang diarahkan menuju eksploitasi,” katanya.
Meski demikian, Dikdik menyatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah konten yang melibatkan guru di salah satu SD Negeri di wilayah Sukalarang tersebut termasuk kategori child grooming. Menurutnya, penilaian tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan potongan konten yang beredar di media sosial.
“Saya belum memperoleh gambaran utuh, baik dari pihak guru maupun dari siswi yang bersangkutan, sehingga belum bisa menarik kesimpulan,” jelasnya.
Ia menambahkan, identifikasi child grooming harus didasarkan pada pola perilaku yang konsisten, relasi kuasa antara orang dewasa dan anak, serta dinamika hubungan dalam jangka waktu tertentu.
“Harus dianalisis secara menyeluruh. Dari pola interaksi itulah baru bisa ditentukan apakah masuk dalam kategori child grooming atau tidak,” ucapnya.
Dikdik juga mengingatkan pentingnya pemahaman yang seimbang di tengah masyarakat. Menurutnya, praktik child grooming kerap luput dari perhatian, namun di sisi lain publik juga sering terlalu cepat memberi label tanpa kajian yang komprehensif.
Menanggapi klaim guru yang menyebut konten tersebut bertujuan membentuk karakter dan meningkatkan kepercayaan diri siswa, Dikdik menilai pendidikan karakter memang penting. Namun, metode yang digunakan harus tetap berpijak pada etika dan norma yang berlaku.
“Tujuan pendidikan tidak hanya akademik, tetapi pembentukan karakter harus dilakukan dengan cara yang etis dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Ia pun menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam setiap proses pengembangan karakter anak agar tercipta keselarasan antara peran pendidik dan keluarga.
“Pelibatan orang tua menjadi kunci agar niat baik tidak menimbulkan persoalan baru di ruang publik,” pungkasnya.***(RAF)
Editor : M. Nabil