Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Bismillahi nurullah. Dari hati yang bergetar menyaksikan negeri diguncang badai, izinkan suara ini sampai kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto.
Bangsa ini pernah mengalami gelap yang begitu pekat. September 1965 adalah bulan kelam yang menoreh luka sejarah: pemberontakan, pertumpahan darah, dan perpecahan yang merobek persatuan Indonesia.
Hari-hari itu menjadi catatan pahit, sekaligus peringatan bahwa bila nafsu kekuasaan dibiarkan liar, maka rakyatlah yang akan menjadi korban. Luka itu belum pernah sepenuhnya sembuh, tetapi ia menjadi ingatan kolektif bangsa.
Kini, enam puluh tahun kemudian, sejarah seakan mengetuk kembali.
Sejak 25 Agustus 2025 hingga 1 September 2025, rakyat kembali turun ke jalan. Gelombang demonstrasi meluas, amarah membara, gedung-gedung terbakar, darah kembali tumpah. Tragisnya, seorang pengemudi ojek online dilindas kendaraan barakuda—simbol bagaimana aparat dan elit gagal melindungi rakyatnya sendiri.
Pertanyaan pun menggema: apa yang ada di dalam pikiran dan nafsu para eksekutif, legislatif, yudikatif, Polri, hingga Brimob sehingga berani mengkhianati amanat negara yang berdiri di atas Pancasila? Nafsu serakah, permainan kursi, dan kerakusan kuasa telah menutup mata hati. Mereka lupa, kekuasaan sejati bukan pada jabatan, melainkan pada kepercayaan rakyat.
Namun, di balik itu, ada bayangan permainan lebih besar. Elit global dan lokal bersekongkol, mengail di air keruh, berharap kekacauan ini menjatuhkan kepemimpinan yang baru saja bersemi. Inilah ujian sejati bagi Bapak Presiden: apakah membiarkan Indonesia jatuh dalam pusaran kegelapan baru, atau mengubah sejarah dengan langkah berani menuju kebangkitan?
Rakyat menunggu tindakan nyata, bukan sekadar pidato. Ada dua langkah utama yang harus segera diambil:
Pertama, bentuk pemerintahan baru dengan membersihkan kabinet dari para pengkhianat. Mereka yang terbukti merusak fondasi bangsa harus disingkirkan tanpa kompromi.
Kedua, angkat orang-orang baik yang benar-benar profesional: dari unsur BIN, TNI, Polri yang setia pada bangsa, serta intelektual dan cendekiawan yang jernih dan murni niatnya. Hanya dengan fondasi manusia baik, Indonesia bisa kembali tegak.
Seiring itu, tangkap para penjahat dan pengkhianat negara. Jangan biarkan mereka bebas merongrong dari dalam. Negara harus hadir bukan untuk menindas rakyat, tetapi untuk melindungi mereka dari perampok berjas maupun berseragam.
Bapak Presiden, secara psikologis para elit kini tidak lagi digerakkan akal sehat. Mereka diperbudak nafsu mempertahankan kursi, harta, dan jaringan kroni. Di sisi lain, rakyat yang marah digerakkan oleh luka kolektif dan rasa putus asa. Mereka turun ke jalan karena tak lagi percaya pada suara kotak pemilu atau keadilan lembaga negara. Di saat inilah, api rakyat bisa membakar habis segalanya—baik yang jahat maupun yang masih baik.
Inilah saat genting yang akan menentukan apakah September 2025 akan tercatat sebagai September kelam kedua, atau justru menjadi September kebangkitan Indonesia.
Bapak Presiden, kesempatan tidak datang dua kali. Nusantara menunggu tangan tegas Bapak untuk membalik arah sejarah. Jadilah penoreh sejarah baru: pemimpin yang tidak tunduk pada nafsu elit, tidak menyerah pada permainan global, melainkan setia kepada rakyat dan setia kepada Tuhan.
Bangkitkan Indonesia, bersihkan pengkhianat, dan jadilah cahaya di tengah gelap yang mengancam negeri ini.***
Foto : Ilustrasi
Editor : M. Nabil
(Aab)