Bisnisnews.net – Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi mengungkap kronologi dugaan keracunan massal yang menimpa 39 siswa SDN Bojongkoneng, Kampung Bojong Jagal RT 05/RW 02, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Cibadak.
Para siswa mengalami gejala mual hingga pusing setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 28 Juli 2026.
Kepala Dinkes Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi menyebut berdasarkan data penanganan medis hingga Rabu 29 Juli, total korban mencapai 39 anak.
“Data update terakhir dari Puskesmas mencatat ada 39 siswa yang terdampak. Mayoritas beristirahat di rumah dengan kondisi stabil, dan satu anak yang sempat ditangani di IGD RSUD Sekarwangi juga sudah diperbolehkan pulang usai diberikan obat,” ujar Masykur.
Peristiwa bermula sekitar pukul 08.30 WIB saat bantuan MBG tiba di sekolah. Menu tersebut kemudian dikonsumsi siswa pukul 09.00 WIB.
Hanya berselang 40 menit, tepatnya pukul 09.40 WIB, sejumlah siswa mulai mengeluh pusing dan mual. Beberapa di antaranya langsung ditangani di lokasi, dan satu anak sempat dirujuk ke IGD RSUD Sekarwangi Cibadak.
Masykur menyayangkan tidak adanya laporan awal dari pihak Unit Pelaksana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dapur yang menyalurkan MBG itu diketahui berasal dari Dapur Nazran SPPG Cibadak 02.
“Awalnya tidak ada laporan resmi dari pihak SPPG ke Puskesmas. Korban sempat dibawa ke bidan swasta terdekat. Namun, tim kami bergerak proaktif dengan membentuk posko darurat di dekat lokasi serta menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan investigasi lapangan,” tegasnya.
Dari hasil investigasi, inspeksi sanitasi, dan pengujian lapangan di lokasi dapur, petugas menemukan adanya produk susu yang sudah melampaui tanggal kedaluwarsa.
“Hasil survei lapangan menemukan adanya produk susu yang expired. Meski indikasi awal mengarah ke sana, kami belum bisa menyimpulkan secara pasti sebelum hasil uji laboratorium keluar,” jelas Masykur.
Tim Dinkes sudah mengambil sampel seluruh menu makanan dan minuman yang disajikan hari itu. Sampel akan diperiksa secara komprehensif di laboratorium untuk memastikan penyebab pasti keracunan.
Dinkes berharap kejadian ini menjadi evaluasi bagi penyelenggara MBG agar lebih ketat dalam pengawasan bahan pangan. Ke depan, koordinasi antara SPPG, sekolah, dan puskesmas juga diminta diperkuat agar respon cepat bisa dilakukan.***
Editor : M. Nabil
(Aab)