Bisnisnews.net – Memasuki hari ke-13 bulan suci Muharam, getaran spiritual spiritualitas dan optimisme kebangsaan mengalun kuat dari bumi Sukabumi. Melalui sebuah Diskusi Santai, sejumlah tokoh pergerakan, akademisi, aktivis mahasiswa, dan pimpinan media berkumpul merumuskan komitmen kebangsaan. Momentum religi ini melahirkan sebuah Pernyataan Bersama yang memadukan kekuatan doa dan ketegasan sikap politik demi masa depan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi.
Hadir dalam diskusi tersebut Anto Kusumayuda (Ketua Umum PPJNA 98), Aam Abdul Salam (Sekretaris Jenderal PPJNA 98 / Koordinator Nasional Kedaulatan Energi), Presidium MD KAHMI Sukabumi, Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (Sinergi Media Merah Putih / Pemilik Wartain.com / Pengurus SMSI Sukabumi Raya), HM Fikrie (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara), serta Yosep Maulana (tokoh aktivis Mahasiswa Palabuhanratu Sukabumi).
Bulan Muharam adalah gerbang hijrah, momentum terbaik untuk mengikis pesimisme dan menebar energi positif. Para tokoh sepakat bahwa kekuatan spiritual adalah fondasi utama pembangunan nasional.
Syi’ar di Pelosok Negeri: Menggandeng masyarakat untuk menggemakan sholawat di masjid, pesantren, mushola, tajug, hingga rumah-rumah perkampungan.
Wasilah Keberkahan: Menjadikan getaran sholawat sebagai pengetuk pintu langit agar rahmat Allah SWT turun melimpah bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kekuatan Pemimpin: Mendoakan secara khusus agar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka senantiasa diberikan kesehatan, ketegasan, kesabaran, serta kemudahan dalam menjalankan tugas kenegaraan dan menuntaskan amanah rakyat.
Bersama Prabowo: Sikat Habis Korupsi dan Oligarki Hitam
Di tengah ujian global dan domestik yang menghadang, editorial ini menegaskan bahwa ketahanan spiritual harus berjalan beriringan dengan ketegasan hukum. Seluruh elemen yang hadir menyatakan sikap bersatu padu di belakang Presiden Prabowo Subianto untuk membersihkan negara dari praktik korup merusak negara.
1. Pemberantasan Korupsi Tanpa Pandang Bulu: Mendukung pembersihan aparatur negara dari mental korup demi menyelamatkan uang rakyat.
2. Sita Harta Kekayaan Negara: Mendesak penyelamatan sumber daya alam (SDA) dari cengkeraman oligarki hitam yang selama ini menguras kekayaan bumi pertiwi secara ilegal dan merugikan negara.
3. Kedaulatan Energi dan Pangan: Memastikan tata kelola kekayaan alam sepenuhnya dikembalikan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat kecil.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Manifestasi Akhlak Para Nabi
Salah satu poin krusial yang dibahas dalam diskusi santai ini adalah keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para tokoh memandang program ini bukan sekadar kebijakan politik, melainkan sebuah kewajiban moral dan teologis yang luhur.
Jejak Spiritual: MBG adalah cerminan nyata dari akhlak dan perbuatan para Nabi, Sahabat Nabi, serta para Wali dan Aulia Allah. Mereka adalah sosok yang tidak pernah membiarkan umatnya kelaparan.
Pemberdayaan Kelompok Rentan: Program ini harus terus dikawal agar tepat sasaran menyentuh anak-anak sekolah, bayi menyusui, ibu hamil, serta lansia yang masuk kategori masyarakat rentan.
Investasi Generasi Penerus: Memastikan pemenuhan gizi sejak dini adalah kunci utama mencetak generasi muda yang sehat, cerdas, dan tangguh. Merekalah yang akan melanjutkan estafet perjuangan menuju visi besar Indonesia Emas.
Indonesia Menuju Negara Termaju yang Adil dan Makmur
Ujian berat yang dihadapi bangsa hari ini tidak boleh menyurutkan semangat. Sebaliknya, tantangan ini harus menjadi pemersatu saf perjuangan antara pemerintah dan rakyat. Dengan kepemimpinan nasional yang berani mengeksekusi kebijakan pro-rakyat kecil, diiringi ketukan doa sholawat yang tak putus dari perkampungan hingga kota, target menjadi negara termaju di dunia bukan lagi sekadar impian.
Mari isi sisa hari di bulan Muharam ini dengan gema sholawat, kerja keras, dan komitmen menjaga keutuhan bangsa. Semoga Indonesia menjelma menjadi negara yang adil, makmur, sejahtera, serta diliputi keberkahan yang melimpah dari langit dan bumi. (M.Rafi Asyam)***
Editor : M. Nabil