Bisnisnews.net – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada awal perdagangan Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda dibuka pada posisi Rp17.866 per dolar AS atau turun 61 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.805 per dolar AS.
Sementara itu, data dari platform pemantau keuangan lainnya menunjukkan rupiah bergerak di kisaran Rp17.879 per dolar AS pada perdagangan pagi hari. Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan eksternal, terutama akibat menguatnya dolar AS di tengah ketidakpastian perkembangan geopolitik global.
Pelaku pasar masih mencermati arah perundingan terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan internasional.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan masih berada dalam tren fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Menurutnya, investor saat ini menunggu kejelasan langkah dan kebijakan yang akan diambil Presiden AS Donald Trump terkait perkembangan negosiasi tersebut.
“Ketidakpastian yang masih berlangsung membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, sehingga mendorong penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujarnya.
Di sisi lain, Ibrahim menilai terdapat faktor domestik yang dapat memberikan dukungan bagi nilai tukar rupiah.
Salah satunya adalah implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan eksportir menempatkan dana hasil ekspor pada perbankan nasional, khususnya bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Kebijakan tersebut dinilai mampu meningkatkan ketersediaan valuta asing di dalam negeri sehingga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih cukup kuat.
Dengan berbagai sentimen yang berkembang, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap dipengaruhi dinamika ekonomi dan politik global, serta efektivitas kebijakan domestik dalam menjaga keseimbangan pasar valuta asing.***
Editor : M. Nabil
(IFU)