Bisnisnews.net || Industri perfilman Indonesia kembali menunjukkan lompatan besar melalui film Pelangi di Mars. Film berdurasi 112 menit ini menghadirkan kualitas visual berbasis CGI (Computer-Generated Imagery) yang disebut-sebut setara dengan produksi Hollywood.
Sejak penayangan perdananya secara serentak di berbagai kota, film bergenre fiksi ilmiah ini langsung mencuri perhatian. Visual robot dan lanskap planet Mars ditampilkan dengan detail memukau, namun tetap dikemas dalam cerita yang ramah untuk ditonton bersama keluarga.
Antusiasme penonton juga terlihat di Kota Sukabumi, terutama saat momentum libur panjang Idul Fitri. Banyak warga memanfaatkan waktu libur dengan menonton film ini di bioskop.
Salah satunya Dwi Itami (36), warga Bandung yang tengah berlibur bersama keluarganya di Sukabumi. Ia menilai film ini tidak hanya unggul secara visual, tetapi juga sarat pesan edukatif.
“Filmnya bagus sekali, menurut saya cukup mendidik. Ada banyak istilah ilmiah yang jadi pengetahuan baru untuk anak-anak. Selain itu juga mengajarkan untuk lebih mencintai bumi,” ujarnya usai menonton di Moviplex Sukabumi, Rabu (18/3/2026).
Dari segi alur cerita, Dwi menyebut film ini mudah dipahami dan cocok untuk anak-anak. Ceritanya mengalir dengan baik dari awal hingga akhir tanpa membingungkan penonton.
“Alurnya jelas dan nyambung. Anak-anak juga menikmati, tadi mereka bilang seru setelah selesai nonton,” tambahnya.
Ia juga mengaku bangga dengan pencapaian sineas Indonesia yang mampu menghadirkan kualitas visual setinggi ini. Menurutnya, film lokal kini mulai mampu bersaing dengan produksi luar negeri.
“Saya penasaran karena ini karya anak bangsa yang pakai teknologi canggih. Ternyata hasilnya bagus sekali, bahkan bisa bersaing dengan film luar,” katanya.
Teknologi XR Jadi Terobosan Baru di Industri Film Nasional
Film yang disutradarai oleh Upie Guava ini merupakan produksi dari Mahakarya Pictures. Produser Dendi Reynando mengungkapkan bahwa kekuatan utama film ini terletak pada penggunaan teknologi Extended Reality (XR) secara masif—sebuah pendekatan yang masih tergolong baru, bahkan di tingkat global.
Ia mengenang momen emosional saat menghadiri ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Market, ketika bertemu dengan salah satu animator yang terlibat dalam proyek tersebut.

“Dia datang hanya untuk mengucapkan terima kasih karena karyanya bisa menjadi bagian dari film ini. Saat itu saya merasa film ini bukan hanya milik kami, tapi milik semua yang terlibat,” ungkap Dendi.
Proses produksi Pelangi di Mars melibatkan ratusan kreator, mulai dari animator, editor, hingga seniman efek visual. Penggarapannya pun memakan waktu hingga lima tahun, mengingat kompleksitas teknologi yang digunakan.
Senada dengan sang produser, Upie Guava menegaskan bahwa film ini merupakan hasil kerja kolektif para pelaku industri kreatif Indonesia. Ia berharap karya ini bisa menjadi inspirasi sekaligus tonggak kemajuan perfilman nasional.
“Ini adalah bentuk dedikasi ratusan orang yang percaya pada mimpi besar. Kami persembahkan film ini untuk anak-anak Indonesia dan semua yang percaya pada kekuatan mimpi,” ujarnya.
Film ini turut dibintangi sejumlah aktor dan aktris tanah air seperti Rio Dewanto, Lutesha, dan Livy Renata, serta didukung pengisi suara seperti Kristo Immanuel dan Gilang Dirga.
Dengan kualitas visual yang impresif dan pesan yang kuat, Pelangi di Mars menjadi bukti bahwa film Indonesia kini semakin matang dan siap bersaing di kancah internasional.***(RAF)
Editor : M. Nabil