Bisnisnews.net – Konsistensi dan kualitas rasa menjadi kunci utama Engkus (65), warga lokal asal Kampung Margaluyu, Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, dalam mempertahankan usaha kuliner tradisional cincau dan cendol legendarisnya yang telah bertahan selama lebih dari empat dekade. Selasa (11/8/2026).
Pria yang akrab disapa Mang Engkus ini telah menjajakan minuman segar tersebut menggunakan gerobak dorong sejak tahun 1982. Meskipun zaman terus berkembang, ia memilih untuk tetap memfokuskan wilayah jualannya hanya di sekitar area Cimaja dengan menawarkan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000 per porsi.
“Saya jualan pakai gerobak muter di sekitar Cimaja saja dari tahun 1982. Berangkat jam 10.00 pagi, alhamdulillah biasanya jam 13.00 siang sudah habis dan saya sudah sampai di rumah lagi,” ujar Engkus saat ditemui di sela-sela aktivitas jualannya.
Rahasia utama di balik bertahannya cita rasa cincau dan cendol buatan Mang Engkus terletak pada racikan olahan gulanya. Bagi Engkus, olahan gula aren asli tanpa pemanis buatan adalah nyawa utama dari kesegaran dagangannya yang membuat pelanggan lintas generasi terus kembali.
“Rasa gula itu yang paling penting dan paling utama. Mau cendol atau cincaunya sebagus apa pun, kalau gulanya tidak pas atau pakai pemanis buatan, rasanya pasti beda dan pelanggan bakal kabur,” tutur warga asli Cikakak tersebut.
Kehadiran sosok Engkus dengan gerobak sederhananya kini tak sekadar menjadi pemuas dahaga warga setempat, melainkan juga simbol keautentikan kuliner lokal yang terus bertahan di tengah gempuran ragam minuman modern.***
Editor : M. Nabil
(YSP)