Bisnisnews.net || Kekhawatiran masyarakat Cidahu semakin memuncak setelah dugaan pembalakan liar di hutan Blok Cangkuang, kawasan Gunung Salak, kembali mencuat. Aktivitas ilegal yang meninggalkan kerusakan cukup luas itu dianggap sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem dan sumber air yang menopang ribuan warga.
Jumroni (50), salah satu tokoh masyarakat, mengatakan bahwa jejak kerusakan yang ditinggalkan para pembalak menunjukkan betapa rentannya kawasan tersebut. Menurutnya, kondisi hutan tidak hanya rusak secara fisik, tetapi juga berdampak langsung pada keberlanjutan sumber air bersih.
“Blok Cangkuang itu jantung air kami. Kalau hutan dibiarkan rusak, kehidupan di tiga kecamatan bisa terdampak. Kami hanya ingin wilayah itu segera dipulihkan,” ungkapnya, Senin (17/11/2025).
Kerusakan Hutan Tinggalkan Kekhawatiran Jangka Panjang
Hutan Blok Cangkuang diketahui menjadi penyangga utama sumber air di kaki Gunung Salak. Kerusakan yang kini terlihat menciptakan kekhawatiran baru, terutama risiko bencana alam seperti longsor dan banjir yang bisa muncul dalam waktu dekat. Warga menilai bahwa pemulihan kawasan harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah maupun instansi terkait.
Masyarakat tidak hanya meminta rehabilitasi, tetapi juga penataan ulang kawasan yang rusak serta penguatan pengawasan. Mereka berharap tidak ada lagi celah bagi pelaku pembalakan liar untuk kembali masuk ke wilayah hutan.
Dorongan Penegakan Hukum dan Evaluasi Peran Pemerintahan Desa
Tuntutan warga juga menyasar aparat penegak hukum. Mereka ingin proses hukum terhadap para pelaku pembalakan berjalan tegas dan transparan.
“Pelaku harus ditindak. Kalau tidak ada langkah nyata, kerusakan akan terus terjadi dan kami yang dirugikan,” tegas Jumroni.
Tim Advokasi Warga Cidahu menilai bahwa lemahnya peran pemerintah desa turut memperburuk keadaan. Rozak Daud, perwakilan tim advokasi, menyebut Kepala Desa Cidahu diduga melakukan pembiaran atas kerusakan yang terjadi.
“Pemerintah daerah harus menegur. Pembiaran itu sama saja membiarkan hutan terus rusak,” ujarnya.
Harapan Kembali pada Model Pengelolaan yang Berdayakan Masyarakat
Warga juga mengingat masa ketika pengelolaan kawasan hutan melibatkan masyarakat secara langsung, terutama pada masa almarhum Menteri Bustanil Arifin. Menurut mereka, pendekatan tersebut mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memberi rasa memiliki kepada masyarakat.
“Saat masyarakat dilibatkan, program berjalan bagus. Lingkungan pun terjaga. Kami ingin pola seperti itu kembali diterapkan,” kata Jumroni.
Polisi Mulai Lakukan Pemeriksaan Lapangan
Di sisi lain, Polres Sukabumi telah mengambil langkah awal. Kasat Reskrim IPTU Hartono memastikan bahwa unit Tipidter sudah turun langsung ke Blok Cangkuang untuk meninjau kondisi lapangan.
“Pengecekan di lokasi sudah dilakukan. Saat ini kami juga sedang mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak,” jelas Hartono.
Ia menegaskan bahwa penyelidikan terus berjalan dan pihak kepolisian berkomitmen mengungkap aktor serta pelaku yang terlibat. “Kami pastikan proses penyelidikan tetap berlanjut,” tutupnya.
Dengan kondisi hutan yang terus tergerus, masyarakat Cidahu kini hanya bisa berharap pada tindakan cepat dan tegas dari pemerintah serta aparat penegak hukum. Bagi mereka, nasib masa depan lingkungan Gunung Salak—dan sumber kehidupan yang mengalir darinya—bergantung pada bagaimana kasus pembalakan ini ditangani.***(RAF)
Editor : M. Nabil