Bisnisnews.net || Dugaan kasus pencabulan yang menyeret seorang guru olahraga di sebuah Madrasah/Sekolah di wilayah Surade kembali menjadi perhatian publik. Kasus ini mencuat setelah GM (30), mantan siswa yang diduga menjadi korban pada 2013, akhirnya memberanikan diri mengungkap pengalaman kelam yang telah disimpannya selama lebih dari satu dekade.
GM, yang kini telah menikah dan memiliki dua anak, datang langsung ke kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi pada Senin (17/11). Ia tidak datang sendirian—anggota KNPI dan aktivis beberapa lembaga sosial turut mendampinginya untuk memberikan dukungan moral dan psikologis.
Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, membenarkan bahwa laporan tersebut telah diterima. Menurut Agus, laporan GM semakin mendapat atensi setelah beredar informasi di media sosial yang menyebut terduga pelaku memiliki banyak korban.
“Begitu ada informasi yang viral, kami langsung bergerak. Kami panggil korban untuk wawancara awal agar bisa memahami situasinya,” ungkap Agus saat ditemui pada Senin (17/11/2025).
Sebagai tindak lanjut, DP3A mengerahkan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) wilayah Selatan untuk melakukan pendalaman di lapangan. Fokus utama tim tersebut adalah memastikan kebenaran informasi serta menemukan apakah ada korban lain yang mengalami nasib serupa.
Terduga pelaku, ES, diketahui merupakan seorang pegawai negeri sipil di bawah Kementerian Agama. Agus menyebut bahwa pihak Kemenag telah memanggil ES, meski hingga kini belum ada kejelasan mengenai langkah resmi yang akan diambil terhadapnya. Adapun GM—yang mendatangi DP3A—berusia sekitar 30 tahun, sementara ES diperkirakan berusia 45 tahun.
Agus menegaskan bahwa peran DP3A adalah memastikan pendampingan dan perlindungan bagi korban.
“Ranah kami adalah memberikan pendampingan psikologis. Untuk proses hukum, itu kewenangan kepolisian. Tapi kami siap bekerja sama bila ditemukan korban lainnya,” jelasnya.
Ia juga mengajak para korban lain yang mungkin masih menyimpan pengalaman serupa untuk tidak takut melapor. “Jika memang ada unsur kekerasan seksual, kami imbau korban lain agar tidak ragu menyampaikan laporan. Identitas korban pasti akan kami jaga,” tegasnya.
Agus menilai langkah GM untuk membuka suara, meski kejadian telah berlalu 12 tahun, merupakan bentuk keberanian yang patut diapresiasi.
“Kejadiannya memang sudah lama, 2013. Mengapa tidak melapor dulu? Bisa jadi karena ketakutan atau tekanan tertentu. Itu yang sedang kami gali,” tambahnya.
DP3A memastikan akan kembali mengirimkan tim guna mendalami kesaksian dan memastikan fakta di lapangan.
“Kami akan menurunkan tim lagi untuk memastikan apa yang disampaikan korban,” tutup Agus.***(RAF)
Editor : M. Nabil