Bisnisnews.net || Aroma wangi nasi goreng yang mengepul dari sebuah gerobak sederhana di kawasan Dermaga Palabuhanratu, tepatnya di Jalan Nasional III depan pintu masuk Dermaga, kerap menggoda siapa saja yang melintas. Lapak milik Mas Ardi (38), perantau asal Solo ini, sudah sekitar lima tahun menjadi bagian dari denyut malam Palabuhanratu. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas nelayan dan masyarakat pesisir, kehadiran nasi goreng gerobak ini menjadi pilihan kuliner yang hangat dan terjangkau.
Setiap sore menjelang malam, tepatnya pukul 17.00 WIB, Nasgor mulai beroperasi hingga dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Jam buka yang panjang membuatnya mudah dijangkau oleh berbagai kalangan, mulai dari nelayan yang baru pulang melaut hingga warga yang sekadar mencari santapan malam. Hanya pada hari Kamis, Mas Ardi memilih beristirahat untuk mengisi tenaga sebelum kembali melayani pelanggan.
Menu yang ditawarkan pun tidak hanya nasi goreng. Mas Ardi juga menyediakan mie goreng dan kwetiau dengan harga yang sama, yakni Rp10.000 per porsi. Dengan harga tersebut, pembeli sudah mendapatkan sajian yang cukup mengenyangkan, menjadikannya salah satu kuliner kaki lima yang ramah di kantong namun tetap memuaskan selera.
“Alhamdulillah sudah sekitar lima tahun saya jualan di sini. Kebanyakan yang beli itu nelayan sama warga sekitar. Saya berusaha jaga rasa supaya tetap enak dan konsisten,” ujar Mas Ardi saat ditemui di lapaknya.
Di balik kesibukan malam hari, proses persiapan sudah dimulai sejak pagi. Sang istri berperan penting dalam menyiapkan bahan-bahan dengan berbelanja ke pasar. Siang harinya, keduanya mulai meracik bumbu dan menyiapkan kebutuhan dagangan sebelum akhirnya berangkat ke lokasi berjualan saat sore hari. Kekompakan ini menjadi kunci keberlangsungan usaha kecil yang mereka jalankan.
Salah satu pelanggan, Wahyu (22), mengaku kerap mampir untuk menikmati sajian di gerobak tersebut.
“Rasanya enak, porsinya juga pas buat kenyang. Harganya murah lagi, jadi kalau malam lapar pasti ke sini,” ungkapnya.
Dari sisi ekonomi, usaha nasi goreng ini menjadi bagian dari geliat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di kawasan Palabuhanratu. Dengan omset harian berkisar antara Rp150.000 hingga Rp200.000, Mas Ardi mampu mempertahankan usahanya di tengah persaingan kuliner yang semakin beragam.
Meski masih menggunakan gerobak sederhana, kualitas rasa dan pelayanan yang ramah menjadi nilai lebih yang membuat pelanggan terus kembali.
“Ke depan saya ingin usaha ini lebih berkembang, termasuk mengurus legalitas seperti NIB dan sertifikat halal supaya lebih dipercaya dan bisa lebih maju lagi,” Jelasnya.
Keberadaan nasi goreng gerobak Mas Ardi menjadi gambaran nyata bagaimana pelaku UMKM lokal mampu bertahan dan tumbuh dari kesederhanaan, dengan mengandalkan cita rasa, kerja keras, serta pelayanan yang tulus. Di tengah geliat kawasan pesisir Palabuhanratu, usaha kecil seperti ini tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghidupkan roda ekonomi masyarakat sekitar.***
Editor : M. Nabil
(Ujeng)