Bisnisnews.net || Di balik kesunyian bengkel logam sederhana di Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, tersimpan cerita luar biasa tentang bagaimana warisan budaya lokal dapat menjadi bagian dari diplomasi tingkat tinggi. Adalah Adam Yazid, pemuda 26 tahun, yang memimpin tim pengrajin di Sadam Sajam Masterpiece, menciptakan dua pedang eksklusif yang kini berada di tangan dua tokoh dunia: Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Kedua pedang tersebut diserahkan sebagai cenderamata VVIP oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraannya pada Mei dan Juni 2025 lalu. Bagi Adam dan timnya, ini bukan sekadar pesanan, tetapi tanggung jawab budaya yang sarat makna simbolik.
“Setiap detail bukan hanya soal bentuk, tapi membawa semangat, nilai budaya, dan identitas bangsa,” ujar Adam saat ditemui pada Sabtu (2/8/2025).
Ia menceritakan, proyek ini dimulai dari kepercayaan yang dibangun melalui relasi panjang dengan Kementerian UMKM. Berkat rekam jejak yang kuat dalam memenuhi pesanan berskala nasional, Adam direkomendasikan oleh Menteri UMKM Maman Abdurrahman kepada Sekretaris Kabinet. Ia lalu menerima mandat langsung dari Istana untuk memproduksi cenderamata istimewa bagi dua pemimpin sahabat Indonesia.
Pedang yang dikerjakan secara kolaboratif oleh lima pengrajin senior ini memiliki panjang sekitar satu meter, dan memerlukan waktu pengerjaan intensif selama satu bulan. “Ini proyek paling menantang yang pernah kami tangani. Standar keamanan, estetika, dan makna filosofisnya sangat tinggi,” jelas Adam.
Namun kisah ini tak berhenti pada satu pencapaian pribadi. Keberhasilan Adam adalah puncak dari sejarah panjang Desa Cibatu sebagai sentra kerajinan logam tradisional. Menurut Kepala Desa Cibatu, Asep Rahmat, keahlian menempa logam telah menjadi bagian dari identitas kolektif warga sejak masa penjajahan.
“Desa kami punya sejarah kuat. Bahkan dulu kakek saya pernah menerima pesanan pedang upacara dari Presiden Soeharto. Ini bukan cerita baru, tapi semangatnya sekarang yang baru: kami masuk ke pasar global,” kata Asep bangga.
Lebih dari 100 keluarga di desa ini hidup dari kerajinan logam. Produk mereka tak hanya terbatas pada senjata tradisional, tetapi juga peralatan upacara militer, alat pertanian, hingga komponen militer seperti pembersih laras senjata api. Beberapa unit TNI masih secara rutin memesan produk dari bengkel-bengkel lokal di Cibatu.
Kini, melalui digitalisasi dan penguatan UMKM, para pengrajin mulai menembus pasar internasional. Adam sendiri telah melayani permintaan dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, dan Timur Tengah. Pemerintah desa juga aktif memberikan pelatihan dan bantuan peralatan modern agar pengrajin dapat terus berkembang di tengah persaingan global.
Menurut Asep, pencapaian Sadam Sajam Masterpiece adalah bukti konkret bahwa budaya lokal bisa menjadi kekuatan lunak (soft power) dalam diplomasi antarbangsa. “Cinderamata bukan sekadar hadiah. Ia membawa pesan. Ketika pedang dari Cibatu diberikan kepada pemimpin dunia, itu adalah cara Indonesia menunjukkan jati dirinya.”
Asep berharap, semangat pelestarian budaya yang berpadu dengan inovasi terus dijaga generasi muda. “Dari desa kecil seperti Cibatu, bisa lahir karya besar yang diakui dunia. Itu artinya kita tinggal bagaimana menjaga tradisi, dan membawanya dengan bangga ke masa depan,” harapnya.***(RAF)
Editor : M. Nabil