Bisnisnews.net || Sentimen terkait dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pembentukan Danantara disebut-sebut turut mempengaruhi terpuruknya pasar saham. Seperti diketahui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hingga lebih dari 5 persen pada perdagangan kemarin. Anjloknya pasar saham dalam negeri tersebut sempat memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Merespons hal ini, Guru Besar Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM), Prof Nindyo Pramono mengatakan pergerakan pasar modal mencerminkan keadaan ekonomi. Menurutnya ketika ekonomi naik, maka pasar modal ikut naik.
Dia menilai ambruknya IHSG merupakan akumulasi dari kekecewaan pasal terhadap regulator yang dianggap tidak berpihak pada mekanisme pasar alias pro market.
“Selain itu, kurangnya transparansi juga mempengaruhi harga saham. Apakah karena Danantara? Tidak,” jelas Prof.
Nindyo dalam Seminar Hukum dan Ekonomi Kajian Hukum dan Keekonomian Superholding Danantara yang diselenggarakan oleh Program Studi Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan, Kamis (20/3/2025).
Ia melanjutkan, situasi penuruan ini membuat pasar bingung, terutama karena ada ketidakjelasan mengenai apakah saham tertentu benar-benar akan dijual oleh pemerintah.
Namun, penting untuk dipahami pasar modal bukanlah penyebab utama turunnya perekonomian, melainkan hanya cerminan dari dinamika yang terjadi. Seperti transparansi dan akumulasi sentimen negatif yang telah terbentuk.
“Apakah pasar akan terus turun minggu depan? Itu kan masih belum pasti. Namun, yang jelas, ini bukan sekadar soal satu atau dua keputusan, melainkan dampak dari hilangnya kepercayaan pasar secara keseluruhan,” ujarnya.
Sejatinya ia mendukung landasan Danantara yang dibentuk untuk pembangunan dan kemakmuran rakyat. Selama tujuannya bagi kepentingan rakyat, maka Danantara dapat didukung dan dinilai positif. Secara filosofis pembentukan Danantara tak ada yang aneh dengan tujuan pun ideal.
“Namun, jika nantinya ada dampak berupa turunnya IHSG, bisa jadi persoalannya terletak pada struktur organisasi Danantara yang tidak diterima oleh pasar, sehingga investor lari,” lanjutnya.
Kurangnya transparansi juga menjadi faktor utama. Padahal, transparansi adalah kunci utama dalam pasar modal. Tanpa transparansi, kepercayaan investor melemah, dan pasar pun bereaksi negatif. Dia berpandangan belum saatnya menilai Danantara berhasil tidaknya dalam waktu singkat.
“Kita lihat dulu apakah Danantara ini dikelola profesional. Kalau tidak, imbasnya rakyat pasti bakal marah,” ujarnya.
Peran negara, regulator, pembina, dan birokrat dinilai penting dalam menjalankan tugas pengawasan secara efektif. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama, karena tanpa pengawasan yang baik, sistem ini akan rentan terhadap praktik korupsi.
Sementara itu dalam keterangan persnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati merespons ambruknya IHSG dan berharap pasar kembali tenang. Dia mengatakan, posisi pendapatan negara itu menunjukkan tren positif sejak 1-17 Maret 2025.
Sebelumnya, dia mengakui penerimaan negara secara bruto sempat minus 3,8 persen per akhir Februari lalu. Selain itu, di tengah fluktuasi pasar, dia juga memastikan Surat Utang Negara masih menarik bagi investor.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun meyakinkan pengelolaan keuangan negara akan dilakukan dengan baik. Dia menegaskan bahwa defisit APBN 2025 tetap dijaga di posisi 2,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).***
Foto : Istimewa
Editor : M. Nabil
(Aab)