Harga Gabah di Atas HPP, Bulog Kendal Andalkan Skema Komersial dan Efisiensi Produksi

Date:

Bisnisnews.net – Keterbatasan pasokan gabah kering panen (GKP) pada musim panen gadu menekan ruang gerak Perum Bulog dalam menjaga keseimbangan biaya pengadaan bahan baku dan harga jual beras. Di tengah harga gabah petani yang naik melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP), Bulog Kendal mengandalkan skema pembelian komersial dan efisiensi operasional untuk menjaga keberlanjutan produksi.

Manager Operasi Sentra Pengolahan Pangan (SPP) Kendal, M Aziz Latif, mengatakan terbatasnya pasokan gabah pada musim panen kedua memicu persaingan pengadaan bahan baku. Kondisi tersebut berbeda dengan musim panen raya ketika pasokan gabah relatif melimpah.

“Tantangan penyerapan gabah ini memang tantangan yang luar biasa. Karena panen gadu ini, panen akhir, itu pasti berebut. Supply and demand-nya tidak seimbang seperti musim panen raya,” ujar Aziz saat ditemui di SPP Kendal, Jumat (30/10/2026).

Menurut dia, dinamika pasokan dan permintaan membuat Bulog perlu menyesuaikan strategi pengadaan. Pembelian gabah melalui skema pemerintah memiliki batas HPP Rp6.500 per kilogram, sementara harga yang terbentuk di tingkat petani dapat bergerak lebih tinggi akibat terbatasnya pasokan.

Skema Komersial Jadi Alternatif Pengadaan

Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, SPP Kendal tidak hanya mengandalkan penyerapan gabah langsung dari petani. Bulog juga menjalin kerja sama dengan sejumlah penggilingan padi kecil melalui skema pembelian komersial.

Skema ini memungkinkan pembelian bahan baku mengikuti harga pasar, termasuk ketika harga gabah berada di atas HPP. Kualitas gabah menjadi salah satu pertimbangan dalam penentuan harga pembelian untuk mendukung produksi beras premium.

“Kalau komersial, skemanya memang mengikuti harga yang berlaku di lapangan. Ketika kualitas bahan bakunya lebih bagus, bisa dilakukan pembelian dengan harga yang lebih tinggi. Misalnya, ketika harga gabah sudah naik di atas HPP pemerintah, kami tetap bisa melakukan pembelian,” ungkap Aziz.

Dari sisi ekonomi, skema tersebut memberikan fleksibilitas dalam memperoleh bahan baku ketika pasokan terbatas. Namun, fleksibilitas pengadaan juga menghadirkan konsekuensi berupa potensi kenaikan biaya produksi yang harus diperhitungkan secara cermat.

Margin Produksi Tertekan oleh Batas HET

Tantangan utama Bulog tidak berhenti pada ketersediaan gabah. Kenaikan harga bahan baku juga berpotensi mempersempit margin usaha, terutama karena harga jual beras tetap harus memperhatikan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku.

Ketika biaya pengadaan meningkat, ruang bagi perusahaan untuk menyesuaikan harga jual menjadi terbatas. Kondisi ini menuntut efisiensi pada setiap tahapan produksi agar biaya tetap terkendali tanpa mengabaikan kualitas beras.

Aziz menjelaskan, SPP Kendal melakukan penyesuaian jam operasional untuk menekan beban produksi, khususnya biaya listrik pada periode beban puncak yang memiliki tarif lebih tinggi.

“Kami melakukan efisiensi di situ. Artinya kami mulai jam 8 dan selesai jam 5 sore. Untuk mengurangi beban produksi karena ruang biaya produksi makin sempit lantaran dibatasi HET,” jelasnya.

Penyesuaian jam operasional tersebut menjadi salah satu langkah untuk mengoptimalkan biaya energi di tengah meningkatnya tekanan biaya bahan baku.

Efisiensi Menjadi Kunci Menjaga Keberlanjutan Produksi

Kondisi yang dihadapi Bulog Kendal memperlihatkan tantangan dalam rantai pasok pangan, yakni menjaga kesinambungan pengadaan gabah sekaligus memastikan harga beras tetap berada dalam koridor kebijakan pemerintah.

Di satu sisi, harga gabah yang meningkat dapat memberikan keuntungan lebih baik bagi petani. Namun, dari sisi pengolahan, kenaikan harga bahan baku perlu diimbangi dengan pengendalian biaya agar kegiatan produksi tetap ekonomis.

Bagi Bulog, kombinasi skema pengadaan komersial, kemitraan dengan penggilingan padi kecil, dan efisiensi operasional menjadi strategi untuk menghadapi ketatnya persaingan memperoleh gabah pada musim panen gadu.

Ke depan, keseimbangan antara harga gabah di tingkat petani, biaya pengolahan, dan batas harga jual beras akan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran produksi serta stabilitas pasokan pangan.***

Editor: M. Nabil

(DH)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Mini Soccer Hai Bakti PU ke-81, Bupati Asjap: Momentum Kebersamaan Perkuat Pengabdian 

Bisnisnews.net - Bupati Sukabumi H. Asep Japar membuka Turnamen...

Aktivis 98 Keluarkan Maklumat Matraman: Prabowo-Gibran Harus Jalankan Agenda Reformasi atau Mundur

Bisnisnews.net - Sejumlah kelompok aktivis 1998 yang tergabung dalam...

Kuota Paspor November 2026 di Imigrasi Sukabumi Dibuka, Daftar Cepat Lewat M-Paspor

Bisnisnews.net – Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Sukabumi...

Reses di Batununggal Cibadak, Hj. Elis Ernawati Tampung Aspirasi Soal Kesehatan hingga Ekonomi Warga

Bisnisnews.net – Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PDI...