Bisnisnews.net – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober seharusnya tidak hanya berhenti pada upacara dan mengenang sejarah. Hal itu disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, dari Fraksi Partai Demokrat, Jalil Abdillah.
Menurut Jalil, bagi generasi muda, momentum Hari Kesaktian Pancasila harus diisi dengan hal-hal positif yang berorientasi pada masa depan.
“Pemuda adalah pewaris sah Pancasila. Jika pada tahun 1965 Pancasila diselamatkan oleh generasi terdahulu dengan pengorbanan jiwa dan raga, hari ini pemuda menyelamatkan Pancasila dengan karya, inovasi, dan karakter,” ujar Jalil Abdillah, Rabu (1/10/2026).
Ia menjelaskan, pertama, pemuda dapat mengisi Hari Kesaktian Pancasila dengan meningkatkan literasi kebangsaan. Di era media sosial, ancaman terhadap Pancasila bukan lagi senjata, melainkan hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme digital. Pemuda yang cerdas digital akan menjadi filter, bukan penyebar kebencian.
Kedua, mengamalkan gotong royong dalam bentuk modern. Jika dulu gotong royong berarti kerja bakti, kini bisa berarti kolaborasi membangun startup, gerakan sosial, relawan bencana, hingga aksi peduli lingkungan. Nilai sila ketiga dan kelima hidup dalam kerja bersama.
“Ketiga, pemuda harus berani berkarya dan berprestasi. Indonesia Emas 2045 hanya akan tercapai jika pemuda hari ini produktif, kreatif, dan berdaya saing. Mengisi waktu dengan belajar, berwirausaha, dan berinovasi adalah bentuk nyata menjaga kesaktian Pancasila,” tuturnya.
Keempat, menjaga toleransi dan persatuan. Di kampus, di sekolah, di tempat kerja, dan di media sosial, pemuda menjadi contoh keberagaman yang rukun. Tidak mudah terprovokasi oleh isu SARA, menghormati perbedaan, dan mengedepankan dialog.
Kelima, ikut berpartisipasi dalam demokrasi secara sehat. Pemuda tidak apatis, tetapi kritis dan solutif. Menggunakan hak pilih dengan cerdas, mengawasi kebijakan publik, dan menyuarakan aspirasi dengan cara yang beradab.
Jalil menegaskan, Hari Kesaktian Pancasila adalah pengingat bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa kuat kita mengenang masa lalu, tetapi seberapa siap kita menatap masa depan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai kompas.
“Jika pemuda mengisinya dengan hal positif, maka Pancasila tidak hanya sakti di buku sejarah, tetapi sakti dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bekal Indonesia untuk melompat lebih jauh ke depan,” pungkasnya.***
Editor: M. Nabil
(Aab)