Oleh: Siti Ratna Maymunah/CEO Wartain.com
Bisnisnews.net – 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Dulu, Pancasila diuji dengan kudeta. Kini, ia diuji dengan konten.
Dunia pers modern hidup di tengah algoritma yang lebih suka emosi daripada fakta, kecepatan daripada kebenaran. Hoaks yang dibungkus isu SARA, ujaran kebencian yang viral dalam hitungan menit, dan polarisasi yang tajam menjadi ancaman baru bagi persatuan.
Padahal, esensi Hari Kesaktian Pancasila adalah memastikan Pancasila tetap menjadi satu-satunya rujukan bersama dalam kebhinnekaan.
Pers modern adalah garda terdepan untuk menjaga kesaktian itu. Tanpa pers yang sehat, Pancasila hanya akan menjadi teks yang dipajang di dinding kelas, bukan nilai yang hidup di ruang publik.
Pertama, pers adalah penjaga ingatan. Peringatan 1 Oktober jangan sampai dimaknai sebagai ajang glorifikasi masa lalu, tetapi sebagai pelajaran. Pers bertugas meluruskan distorsi sejarah, melawan upaya memutarbalikkan fakta G30S/PKI dengan jurnalisme berbasis arsip dan data.
Kedua, pers adalah penjaga nalar. Di era deepfake dan AI, publik mudah dimanipulasi. Pers modern yang berpegang pada Pancasila harus menghadirkan verifikasi, bukan sekadar viralisasi. Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, menuntut pers untuk tidak dehumanisasi korban atau kelompok tertentu demi trafik.
Ketiga, pers adalah perekat, bukan pemecah. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi kode etik tertinggi pers modern. Media tidak boleh menjadi corong kelompok radikal yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi transnasional.
Di sinilah relevansi Dewan Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Independen, akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk adalah wujud pengamalan Pancasila di ruang redaksi.
Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan, pers boleh kritis terhadap pemerintah, tetapi tidak boleh kompromi terhadap ideologi bangsa. Kritik terhadap kebijakan adalah demokrasi, tetapi menyerang Pancasila sebagai dasar negara adalah batas yang tak boleh dilanggar.
Pers modern yang sakti adalah pers yang merdeka tanpa menjadi liar, cepat tanpa kehilangan akurasi, dan berpihak pada kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan.
Jika Pancasila sakti karena mampu mempersatukan, maka pers modern sakti karena mampu menjaga persatuan itu tetap menyala di tengah kebisingan informasi.***
Editor: M. Nabil
(Aab)