Bisnisnews.net – Semangat menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di berbagai sudut Kota Sukabumi. Salah satunya terlihat di RT 01 RW 07, Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunungpuyuh.
Di kawasan tersebut, warga bergotong royong mengubah lingkungan permukiman menjadi sebuah kampung bernuansa budaya Sunda. Mereka menamainya Kampung Golek.
Beragam ornamen menghiasi jalan dan sudut kampung. Bambu, material bekas, lukisan tiga dimensi hingga tokoh wayang golek berukuran besar menjadi bagian dari dekorasi yang dikerjakan secara mandiri oleh warga.
Ketua RW 07, Unang Suwarna, mengatakan gagasan membuat Kampung Golek berawal dari inisiatif warga bernama Abi Mumuh. Ide tersebut kemudian dibicarakan bersama Ketua RT dan mendapat dukungan dari masyarakat.
“Awalnya dari ide ini murni dari warga, terutama yang bernama Abi Mumuh itu yang pertama pencetus. Abi Mumuh punya ide kepada Pak RT, ini Pak RT-nya Pak Aji. Katanya, ‘Yuk kita bikin gini-gini, kita meriahkan lagi dari awal supaya antusias warga lebih baik lagi dan Hari Kemerdekaan lebih baik lagi,'” ujar Unang, Minggu (9/8/2026).
Pengerjaan dekorasi dimulai sejak 1 Juli 2026. Meski sudah hampir rampung, warga masih terus menambahkan sejumlah ornamen sebelum Kampung Golek resmi diluncurkan.
“Dari awal 1 Juli sampai sekarang belum launching juga karena kita masih banyak ornamen-ornamen yang harus kita pasang. Ini baru 90 persen,” katanya.
Keunikan lainnya terletak pada sumber pembiayaan dan material yang digunakan. Warga memilih mengandalkan swadaya, tanpa mengandalkan donatur dari luar lingkungan.
“Alhamdulillah kalau pembiayaan, bahan baku kita dari swadaya masyarakat. Terus alhamdulillah ya berkat Pak RT juga kekompakan warganya alhamdulillah sampai saat ini dana belum pernah ada dari yang lain, donatur yang lain, kecuali dari warga RT 01 RW 07,” ungkap Unang.
Material bambu yang digunakan pun diperoleh dari lingkungan sekitar. Warga memanfaatkan bambu milik masyarakat setempat setelah terlebih dahulu mendapat izin untuk mengambilnya.
“Ini dari limbah-limbah yang kita gunakan. Seperti bambu-bambu ini kita ngambil dari bawah. Kebetulan pohon bambu tersebut punya warga, kita nego, kita ngobrol sama warga,” tuturnya.

Konsep Kampung Golek sengaja mengangkat nuansa budaya Sunda. Gagasan tersebut terinspirasi dari kawasan bernuansa budaya yang pernah dilihat warga di Bandung, kemudian dikembangkan sesuai kreativitas masyarakat setempat.
“Filosofinya ini kita mengacu ke Sundaan. Awalnya dari kita punya dari Panglawungan yang di Bandung. Saya mengidekan dari situ, ngobrol sama Abi Mumuh, sama Pak RT, ‘Yuk kita juga bisa, masa sih enggak bisa,'” jelas Unang.
Salah satu bagian yang paling mencuri perhatian adalah keberadaan wayang golek berukuran jumbo. Tingginya mencapai sekitar 2,5 meter.
Dua tokoh yang sudah terpasang yakni Gatotkaca dan Bima. Sementara itu, warga masih menyiapkan tokoh lainnya, termasuk Semar, Gareng, dan Cepot.
“Ini tinggi wayang sekitar 2,5 meter. Ini baru dua, ini Gatotkaca, yang satu lagi Bima,” kata Unang.
Kampung yang awalnya hanya menjadi proyek kreatif warga tersebut perlahan menarik perhatian masyarakat dari luar wilayah. Terlebih saat malam hari, lampu-lampu dekorasi dinyalakan sehingga membuat suasana kampung semakin semarak.
Menurut Unang, pengunjung bahkan datang dari sejumlah daerah di sekitar Sukabumi.
“Alhamdulillah antusias masyarakat itu dari pagi tadi saya pas pulang salat subuh dari masjid, dari jam 5 sudah banyak foto-foto di sini. Apalagi malam ketika adanya nyalain lampu-lampunya, sudah warga dari mana-mana sampai dari Cisaat, Sukaraja, dari Cibadak juga ada yang ke sini,” ujarnya.
Kehadiran Kampung Golek juga menarik perhatian warga yang melintas. Iis, salah seorang pengunjung, mengaku tertarik melihat langsung kawasan tersebut setelah mengetahui keberadaannya.
“Ini pendapatnya sangat-sangat bagus sekali, Pak,” ujar Iis.
Menurutnya, keberadaan Kampung Golek semakin dikenal setelah foto dan video suasananya beredar di media sosial.
“Jadi viral ke mana-mana,” tambahnya.
Bagi warga RT 01 RW 07, Kampung Golek bukan hanya soal mempercantik lingkungan menjelang perayaan kemerdekaan. Proses pembuatannya menjadi ruang bagi warga untuk kembali berkumpul, bekerja sama, sekaligus menuangkan kreativitas dengan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka.
Dari bambu yang sederhana hingga wayang golek berukuran besar, Kampung Golek menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara kreatif sekaligus memperkuat kebersamaan warga.***(RAF)
Editor : M. Nabil