Bisnisnews.net – Rabu pagi 24 Juni 2026, Lapang Merdeka Kota Sukabumi berubah warna. Ribuan orang berpakaian kuning-hijau membentangkan spanduk bertuliskan “Selamatkan MBG”. Mereka adalah petani, supplier, relawan, dan petugas SPPG yang menolak wacana moratorium Program Makan Bergizi Gratis.
Long march dimulai setelah senam bersama dan istigasah. Dengan pengawalan polisi, barisan bergerak tertib menyusuri jalan protokol. Tidak ada teriakan provokatif, yang terdengar justru yel-yel dukungan untuk anak Indonesia sehat.
Komposisi massa beragam. Di barisan depan petani membawa hasil panen sebagai simbol. Di tengah relawan MBG yang tiap hari membagi makanan. Di belakang petugas SPPG yang paham betul dapur MBG bekerja. Semua satu suara: MBG harus berlanjut.
Titik temu mereka sama: gizi anak tidak bisa ditunda. Jika program dihentikan, dampaknya bukan hari ini, tapi 10-15 tahun ke depan. Itu yang membuat aksi ini lahir tanpa komando partai, murni dari keresahan lapangan.
Panitia terus mengingatkan lewat toa. Pesan utamanya sederhana: jaga ketertiban, jangan buang sampah sembarangan, jangan rusak fasilitas kota. Aksi damai harus jadi contoh, bukan beban bagi warga Sukabumi.
Koordinator Yandra Utama Santosa berdiri di atas mobil komando. Ia membuka orasi dengan bersyukur karena cuaca cerah dan massa disiplin. “Alhamdulillah hari ini diikuti oleh masyarakat dari unsur pejuang gizi yang terdiri dari petani, supplier, relawan MBG, dan SPPG,” katanya.
Menurut Yandra, tidak ada hambatan berarti. Aparat mengamankan, warga memberi air minum, pedagang ikut menutup lapak sebentar untuk memberi jalan. Solidaritas itu yang membuat long march terasa seperti kirab kebaikan.
Di depan gedung DPRD, perwakilan massa dipersilakan masuk. Mereka membawa catatan: jumlah dapur MBG yang aktif, jumlah anak penerima manfaat, dan risiko PHK relawan jika moratorium jadi. Data itu diserahkan langsung ke anggota dewan.
“Kami berharap ada dampak terhadap kebijakan pemerintah agar peningkatan dan perbaikan gizi masyarakat semakin baik. Program MBG harus tetap dilanjutkan karena sudah menjadi janji politik Presiden dan Wakil Presiden,” ujar Yandra saat menyampaikan aspirasi.
Bagi supplier, MBG artinya kepastian order sayur, telur, dan beras. Bagi relawan, MBG artinya senyum anak yang menunggu nasi hangat tiap siang. Bagi SPPG, MBG artinya kerja nyata memutus stunting. Semua pihak merasa dirugikan jika program dipotong.
Panitia menutup aksi dengan doa bersama. Massa membungkuk memungut sampah, melipat spanduk, lalu pulang bergelombang. Jalan protokol kembali normal tanpa jejak kerusakan. Tertib sampai akhir.
Sekitar 5.000 orang sudah bicara lewat langkah kaki. Kini giliran pembuat kebijakan yang menjawab. MBG bukan belanja negara yang bisa ditunda, tapi janji untuk Indonesia Emas 2045. Pejuang Gizi Sukabumi sudah mengetuk pintunya.***
Editor : M. Nabil
(SRM)