Bisnisnews.net – Konsistensi dalam menjaga cita rasa kuliner tradisional menjadi kunci utama bagi Abah Ramdani untuk bertahan di industri makanan. Pria asli kelahiran Betawi, Kuningan, Jakarta ini sukses mempertahankan usaha kuliner kupat tahu miliknya selama lebih dari setengah abad. Sabtu, (6/6/2026).
Saat ini, lapak dagangannya yang berlokasi di Kampung Lio, tepat di depan Puskesmas Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, selalu ramai diserbu warga setiap pagi.Perjalanan panjang usaha kuliner ini dimulai Abah Ramdani sejak era 1970-an di kerasnya ibu kota Jakarta.
Dengan menggunakan pikulan tradisional, ia berjalan kaki menyusuri gang-gang untuk menjajakan kupat tahu yang kala itu masih dijual seharga Rp1.500 per porsi. Dorongan untuk mencari peruntungan yang lebih baik kemudian membawa langkah kakinya bermigrasi ke kawasan pesisir Palabuhanratu pada tahun 1990 silam, di mana ia kembali merintis usaha dari nol dengan berkeliling kampung.
Seiring berjalannya waktu dan melonjaknya harga bahan baku, tarif satu porsi kupat tahu racikannya kini telah menyesuaikan zaman menjadi Rp10.000. Kendati demikian, minat masyarakat tidak pernah surut karena kualitas rasa yang ditawarkan dinilai sangat sepadan. Setiap harinya, Abah Ramdani sudah siap melayani pembeli sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, memanfaatkan waktu prima di mana masyarakat tengah mencari menu sarapan.Faktor usia yang tak lagi muda membuat Abah Ramdani kini memilih untuk menetap atau mangkal di depan Puskesmas Citarik, Kampung Lio.
Namun, agar jangkauan pelanggan tetap luas, estafet jualan keliling kini mulai dibantu oleh sang menantu. Berbeda dengan era Abah yang harus memikul beban, sang menantu kini menjemput bola mengitari wilayah sekitar dengan menggunakan sepeda motor.Abah Ramdani mengungkapkan bahwa konsistensi resep bumbu kacang kental khas Betawi miliknya adalah magnet utama yang membuat pelanggan terus kembali.
“Saya dari tahun 70-an di Jakarta sampai pindah ke Palabuhanratu tahun 90 resepnya tidak pernah diubah. Alhamdulillah, walau sekarang saya cuma bisa mangkal dari jam 6 sampai jam 10 pagi karena fisik sudah modal lelah, dagangan tetap habis dibantu menantu yang keliling pakai motor,” ujar Abah Ramdani saat ditemui di lapaknya.
Melalui usaha kupat tahu yang sederhana ini, Abah Ramdani membuktikan bahwa dedikasi mampu mengalahkan gerusan zaman. Di tengah gempuran kuliner modern saat ini, kehadiran lapaknya di depan Puskesmas Citarik serta perpanjangan tangan sang menantu di jalanan, menjadi simbol kokohnya sejarah kuliner lokal yang berhasil bertahan melintasi generasi.***
Editor : M. Nabil
(Yosep)