Bisnisnews.net || Direktur Eksekutif YPJC, Prof. Owin Jamasy Jamaluddin atau Ki Oje, menekankan pentingnya ubah paradigma pendidikan pesantren. Lembaga jangan berhenti di rutinitas administratif, tapi rancang strategi kemandirian santri sebelum lulus.
Gagasan itu disampaikan Ki Oje dalam “Program Santri Mandiri Jilid II” bersama Pesantren Daaruttarmizi Sukabumi. Kegiatan digelar di Laboratorium Pemberdayaan Jamasy YPJC, Sukabumi.
“Hakikat pendidikan bukan sekadar mengajar, ujian, dan ijazah. Kita harus memikirkan bagaimana santri bisa bertahan dan menang saat terjun ke masyarakat yang penuh ketidakpastian,” tegasnya.
Menurut Ki Oje, ijazah hanya tiket awal. Yang menentukan keberhasilan santri di dunia nyata justru kemampuan adaptif dan ketahanan diri menghadapi realitas sosial-ekonomi.
Untuk memetakan potensi santri tingkat akhir, ia memperkenalkan konsep AKU: Ambisi, Kemampuan, dan Usaha. Ketiganya wajib berjalan beriringan, tidak bisa timpang.
Ambisi, kata Ki Oje, tak boleh berhenti di dorongan emosional sesaat. Ambisi harus punya arah dan tujuan jelas. Tanpa arah, santri mudah goyah saat benturan datang.
Kemampuan perlu diasah lewat literasi dan latihan konsisten. Sementara usaha diwujudkan dalam ketekunan dan daya tahan alias resilience. “Ambisi besar harus diiringi kemampuan dan usaha maksimal. Tanpa itu, sulit bagi santri untuk mandiri,” ujarnya.
Selain AKU, Ki Oje menawarkan metode 4S sebagai pendekatan praktis hadapi ketidakpastian. 4S terdiri dari Scanning, Searching, Scaling, dan Sustaining.
Scanning melatih santri membedakan persoalan yang bisa dikendalikan dan yang di luar kendali. Searching menekankan solusi berbasis data, referensi, dan jaringan. Scaling mengukur kapasitas diri agar target besar dicapai lewat langkah kecil. Sustaining membangun daya tahan hadapi kegagalan. “Gagal itu bukan akhir, tetapi laboratorium belajar yang paling efektif,” kata Ki Oje.
Ia juga mengingatkan pengelola pesantren agar seimbangkan teori dengan kompetensi praktis. Penguatan laboratorium keterampilan dan jaringan sosial jadi kunci agar santri berperan di masyarakat. Ki Oje berharap program ini memicu pesantren lain merancang strategi lulusan yang berdaya saing. Targetnya: santri bukan sekadar pencari kerja, tapi pencipta solusi dan peluang di daerahnya.
“Ketika menghadapi kesulitan, santri harus bisa mandiri dengan menjadi penyedia solusi di daerahnya,” pungkasnya.***
Editor : M. Nabil
(DH)