Pembangunan Perumahan di Gunung Karang Sukabumi Menuai Penolakan Warga

Date:

Bisnisnews.net || Rencana pembangunan kawasan perumahan di wilayah Gunung Karang, Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, memicu perbincangan di media sosial. Sejumlah warga di sekitar lokasi proyek disebut menolak rencana tersebut karena khawatir terhadap dampak lingkungan serta keberadaan gua yang menyimpan bebatuan purba.

Lurah Limusnunggal, Dedi Supriadi, menjelaskan aktivitas pembukaan lahan berupa cut and fill di kawasan tersebut telah dilakukan sejak akhir tahun 2025.

Menurutnya, kegiatan tersebut dilakukan oleh pihak pengembang sebagai tahap awal persiapan lahan sebelum pembangunan dilakukan.

“Kalau tidak salah aktivitas cut and fill dimulai sekitar akhir 2025. Saat itu pihak pengusaha membuka lahan, kemungkinan sebagai langkah awal untuk menarik investor agar pembangunan bisa berjalan,” ujar Dedi, Senin (16/3/2026).

Ia menyebutkan luas lahan yang sudah dikerjakan mencapai sekitar 17 hektare.
Berdasarkan site plan yang pernah ditunjukkan oleh pengembang, area tersebut direncanakan menjadi kawasan perumahan elit.

“Dari denah yang sempat diperlihatkan, memang rencananya akan dibangun perumahan elit dengan luas sekitar 17 hektare,” katanya.

Namun demikian, Dedi mengungkapkan hingga saat ini perizinan pembangunan tersebut belum sepenuhnya terbit. Termasuk dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang menjadi syarat penting dalam pembangunan.

“Setahu kami untuk perizinannya masih belum keluar. Terakhir saya konfirmasi pada Januari lalu, dokumen AMDAL juga masih belum ada,” jelasnya.

Penolakan warga, lanjut Dedi, muncul karena masyarakat merasa tidak dilibatkan dalam proses sosialisasi pembangunan. Pihak pengembang disebut lebih banyak melakukan pendekatan langsung ke rumah warga.

“Mereka datang ke rumah warga satu per satu tanpa melalui musyawarah bersama. Akhirnya warga menyampaikan keberatan, dan kami dari kelurahan memfasilitasi mediasi antara kedua pihak,” katanya.

Mediasi antara warga dan pengembang sendiri telah dilakukan sebanyak dua kali untuk menampung aspirasi masyarakat.
Salah satu kekhawatiran warga adalah potensi banjir akibat berkurangnya kawasan resapan air jika lahan tersebut berubah fungsi menjadi permukiman.

“Warga khawatir jika daerah resapan air berkurang maka bisa menimbulkan banjir di kemudian hari,” ujar Dedi.

Selain itu, masyarakat juga meminta agar pengembang menyediakan fasilitas umum berupa lahan pemakaman bagi warga sekitar.

“Permintaan utama dari warga adalah adanya fasilitas umum untuk pemakaman,” tambahnya.

Dampak dari aktivitas pengolahan lahan juga sempat dirasakan warga. Salah satunya aliran air menuju area persawahan yang tidak berjalan lancar karena saluran irigasi tertutup tanah hasil pengerukan.

“Di pinggir lokasi ada aliran air kecil yang sempat tertutup tanah kerukan sehingga alirannya tidak lancar ke sawah warga,” tuturnya.

Penelitian Gua dan Bebatuan Purba
Di kawasan Gunung Karang juga terdapat gua yang sebelumnya menjadi objek penelitian para ahli. Pada Mei 2025, tim arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian terhadap bebatuan yang ditemukan di lokasi tersebut.

Penelitian dilakukan setelah beberapa batu dari Gunung Karang disimpan di Museum Prabu Siliwangi karena bentuknya yang unik.

Ahli Prasejarah Masa Paleolitik dari BRIN, Jatmiko, menjelaskan batuan tersebut merupakan formasi alami yang terbentuk secara geologis, bukan buatan manusia.

“Batuan di sana adalah batu alam. Ada kepercayaan masyarakat yang menganggap bentuknya menyerupai wajah manusia atau hewan seperti ikan dan anjing laut,” kata
Jatmiko saat penelitian pada 31 Mei 2025.

Ia menambahkan, batuan karang di kawasan tersebut diperkirakan berusia sangat tua karena berasal dari proses geologi yang panjang.

“Karang itu terbentuk dari proses pengangkatan dari dasar laut. Karena itu ditemukan juga jejak kerang di batuannya. Usianya bisa mencapai jutaan tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Ahli Prasejarah Lingkungan BRIN, Zubair Mas’ud, menyarankan agar kawasan Gunung Karang dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis eco-museum yang terhubung dengan koleksi di Museum Prabu Siliwangi.

“Jika pengunjung museum ingin mengetahui asal-usul batuan tersebut, mereka bisa langsung melihat lingkungan aslinya di Gunung Karang,” jelas Zubair.

Menurutnya, potensi wisata di kawasan tersebut juga cukup besar karena terdapat aliran sungai kecil yang bisa dikembangkan sebagai lokasi rekreasi alam.

Terkait kemungkinan pembangunan perumahan berdampak pada lokasi gua, Dedi Supriadi mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah situs tersebut berada dalam area proyek.

“Dari sketsa awal yang pernah kami lihat belum terlihat secara jelas posisi situs itu berada di dalam atau di luar kawasan pembangunan,” katanya.

Meski demikian, ia memastikan hingga saat ini kondisi gua masih aman dan belum tersentuh aktivitas pembangunan.
“Sejauh ini masih aman dan belum ada kegiatan yang menyentuh lokasi gua tersebut,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : M. Nabil

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Perusahaan Pers Sukabumi Raya Dididik Taat Pajak, SMSI Gandeng KPP Pratama

Bisnisnews.net || Literasi pajak di kalangan perusahaan pers terus...

Kejari Sukabumi Tahan 8 Pegawai Bank BUMN, Diduga Korupsi Kredit Fiktif Rp2,6 Miliar

Bisnisnews.net ||  Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi menetapkan delapan pegawai...

Mandat Langit di Era Goro-Goro; Prabowo Subianto dan Misi Penyelamatan Nusantara

Oleh : Anto Kusumayuda (Ketum PPJNA 98) dan Aam...

Launching Manajemen Talenta, Pemkot Sukabumi Perkuat Sistem Merit dan Kinerja ASN

Bisnisnews.net || Pemerintah Kota Sukabumi mulai mengimplementasikan manajemen talenta...