Oleh: Muhamad Rafi Asyam Putra Hadad Santana/ CEO Bisnisnews.net
Bisnisnews.net – Banyak orang mengira 2045 itu masih lama. 19 tahun lagi. Masih sempat santai-santai? Padahal, 2045 itu besok.
Bagi yang hari ini berusia 20 tahun, di tahun 2045 usianya 39 tahun. Usia matang, usia memimpin. Artinya, apa yang kita lakukan hari ini, 28 Oktober 2026, akan menentukan apakah kita di 2045 menjadi pemimpin yang berkualitas, atau menjadi beban bagi negara.
Inilah makna terdalam Sumpah Pemuda yang sering kita lupakan: Sumpah itu bukan tentang hari ini, tapi tentang masa depan.
Para pemuda 1928 bersumpah bukan untuk mereka nikmati saat itu juga. Mereka bersumpah untuk Indonesia yang bahkan belum mereka lihat. Mereka berkorban untuk masa depan yang mereka sendiri belum tentu hidup untuk melihatnya. Itu namanya visi.
Lalu, apa visi kita hari ini?
Maaf, saya harus jujur. Saya melihat banyak pemuda yang kehilangan visi. Kita sibuk dengan target jangka pendek: viral hari ini, FYP hari ini, cuan hari ini. Kita lupa membangun fondasi untuk 19 tahun ke depan.
Indonesia Emas 2045 membutuhkan tiga jenis pemuda, dan ini adalah ajakan saya:
1. Pemuda yang Menjaga Akar, Bukan yang Tercabut.
Jangan jadi generasi yang malu dengan Sukabuminya sendiri. Malu berbahasa Sunda, malu bertani, malu jadi pengrajin. Indonesia Emas tidak akan lahir dari pemuda yang ingin jadi orang lain. Ia lahir dari pemuda yang bangga dengan akarnya, lalu menggunakan teknologi untuk membesarkan akarnya itu ke dunia. Bangga jadi anak Sukabumi yang Go Global.
2. Pemuda yang Kuat Karakter, Bukan Hanya Kuat Koneksi.
Di era digital, koneksi internet penting, tapi koneksi hati dan karakter lebih penting. Indonesia Emas 2045 butuh pemuda yang jujur, disiplin, tahan banting, dan punya integritas. Percuma pintar secara digital kalau mentalnya mudah menyerah, mudah korupsi, mudah menyebar hoaks. Sumpah Pemuda adalah sumpah karakter.
3. Pemuda yang Mengisi Waktu, Bukan yang Dihabiskan Waktu.
Setiap hari kita diberi 24 jam yang sama. Bedanya, ada yang mengisi waktunya dengan karya, ada yang menghabiskan waktunya dengan keluhan. Mulai hari ini, tantang diri kita: satu hari satu kebaikan, satu hari satu karya, satu hari satu ilmu baru. Jika itu dilakukan oleh jutaan pemuda Sukabumi, bayangkan kekuatan kolektifnya menuju 2045.
Saya menutup opini ini dengan sebuah hitungan sederhana.
Jika satu pemuda membuang 3 jam sehari untuk hal tidak produktif, maka dalam 19 tahun menuju 2045, ia telah membuang 20.805 jam. Itu sama dengan 867 hari. Hampir 2,5 tahun hidupnya hilang sia-sia.
Jangan biarkan 2045 datang dan kita menyesal.
Sumpah Pemuda 1928 sudah selesai mereka tunaikan. Sekarang giliran kita bersumpah untuk 2045. Bersumpah untuk tidak menjadi penonton di negeri sendiri.***
Selamat Hari Sumpah Pemuda. 2045 Tidak Menunggu. Kita yang Harus Menjemputnya.
Editor: M. Nabil
(Aab)