Oleh: Aam Abdul Salam / Presidium MD KAHMI Sukabumi/ Dewan Penasehat PWI Kabupaten Sukabumi dan Dewan Penasehat SMSI Sukabumi Raya
Bisnisnews.net – Jika 1928 para pemuda bersumpah tentang bahasa, maka hari ini pemuda bersumpah tentang data.
Kita hidup di zaman ketika satu jempol bisa lebih berisik dari seribu orator. Setiap detik, jutaan informasi membanjiri gawai kita. Inilah transformasi digital. Cepat, tanpa batas, dan sering kali tanpa filter.
Di sinilah Sumpah Pemuda menemukan relevansi barunya. Jika dulu musuh kita adalah buta huruf, hari ini musuh kita adalah buta literasi digital.
Banyak dari kita melek teknologi, tapi tidak melek literasi. Kita bisa membuka aplikasi, tapi tidak bisa memverifikasi informasi. Kita lancar membuat konten, tapi miskin konteks. Akibatnya, ruang digital yang seharusnya menjadi ruang persatuan, justru menjadi ruang perpecahan. Hoaks, ujaran kebencian, dan flexing budaya instan tumbuh subur.
Pemuda 1928 mengajarkan kita satu hal: alat pemersatu itu bukan hanya bahasa, tapi pemahaman.
Maka gerakan literasi hari ini tidak boleh lagi dimaknai sempit sebagai gemar membaca buku. Gerakan literasi harus bertransformasi menjadi tiga gerakan besar:
1. Dari Membaca Teks Menjadi Membaca Konteks.
Literasi digital adalah kemampuan untuk bertanya: Dari mana sumber ini? Siapa penulisnya? Apa kepentingannya? Pemuda Sukabumi harus menjadi filter, bukan sekadar follower. Sebelum membagikan, verifikasi dulu.
2. Dari Konsumen Menjadi Produsen Pengetahuan.
Jangan biarkan pemuda kita hanya menjadi pasar bagi algoritma asing. Sumpah Pemuda versi digital adalah sumpah untuk berkarya. Menulis artikel, membuat podcast edukatif, membuat video tentang potensi lokal Sukabumi, membangun UMKM digital. Itulah cara kita bertumpah darah satu di dunia digital, dengan karya.
3. Dari Ruang Virtual ke Aksi Nyata.
Literasi tidak berhenti di layar. Pengetahuan yang tidak diaktualisasikan adalah kesia-siaan. PWI dan SMSI di Sukabumi Raya punya peran besar. Kita harus menjadikan wartawan dan media siber sebagai penjaga nalar publik. Melatih pelajar menulis, melatih UMKM melek digital marketing, mengawal desa dengan literasi informasi.
Transformasi digital tanpa literasi hanya akan melahirkan generasi yang ramai tapi rapuh.
Tugas KAHMI dan seluruh elemen kepemudaan hari ini adalah memastikan Sumpah Pemuda tidak hanya diperingati di lapangan upacara, tapi dihidupkan di ruang-ruang literasi: di perpustakaan, di Taman Baca Masyarakat, di kelas-kelas jurnalistik warga, di pelatihan-pelatihan digital desa.
Mari kita bersumpah lagi tahun ini. Bukan hanya bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Tapi juga bersumpah untuk satu nalar yang sehat, satu data yang benar, dan satu karya yang membangun.***
Selamat Hari Sumpah Pemuda 2026. Bersatu di Dunia Nyata, Bijak di Dunia Digital.
Editor: M. Nabil
(Aab)