Bisnisnews.net – Fenomena bulan purnama yang dikenal sebagai Harvest Moon akan menghiasi langit Indonesia pada Sabtu malam, 26 September 2026. Kemunculan fenomena astronomi tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai potensi bencana, mulai dari gempa bumi hingga tsunami.
Namun, ahli kegempaan sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menegaskan bahwa Harvest Moon bukanlah fenomena yang secara khusus memicu bencana.
Menurutnya, istilah Harvest Moon merupakan sebutan tradisional bagi bulan purnama yang waktunya berdekatan dengan ekuinoks September. Secara astronomis, fenomena tersebut tidak berbeda secara khusus dari bulan purnama lainnya.
“Harvest Moon sendiri hanyalah nama tradisional untuk purnama yang paling dekat dengan ekuinoks September. Secara fisik ia tetap merupakan Bulan purnama biasa,” kata Dr. Daryono dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/9/2026).
Di wilayah Jakarta, Bulan diperkirakan terbit sekitar pukul 17.29 WIB. Posisi tertingginya terjadi sekitar pukul 23.39 WIB, sedangkan fase purnama berlangsung sekitar pukul 23.49 WIB.
Tidak Berkaitan dengan Gempa dan Tsunami
Dr. Daryono menjelaskan, tidak terdapat mekanisme fisika yang membuat fenomena Harvest Moon secara khusus dapat menyebabkan gempa bumi, letusan gunung api, tsunami tektonik maupun cuaca ekstrem.
Meski demikian, konfigurasi Matahari, Bumi dan Bulan memang memiliki pengaruh terhadap pasang surut air laut.
Saat Bulan purnama, posisi ketiga benda langit tersebut berada hampir segaris sehingga gaya gravitasi Matahari dan Bulan terhadap Bumi menghasilkan rentang pasang-surut yang lebih besar. Kondisi tersebut dikenal sebagai spring tide atau pasang purnama.
Fenomena pasang maksimum itu sendiri bukan hanya terjadi ketika Harvest Moon. Kondisi serupa berlangsung secara rutin di sekitar fase Bulan baru dan Bulan purnama setiap bulan lunar.
Potensi Rob Tetap Perlu Diwaspadai
Terkait potensi banjir rob, masyarakat diminta tidak menyimpulkan bahwa seluruh wilayah pesisir Indonesia otomatis akan terdampak hanya karena adanya Harvest Moon.
Dr. Daryono mengatakan, risiko rob dipengaruhi berbagai faktor. Selain pasang astronomis, kondisi tersebut dapat diperparah oleh angin, gelombang laut, tekanan atmosfer, karakteristik garis pantai dan dasar laut, hingga posisi muka laut terhadap daratan.
“Jika pasang tinggi bertepatan dengan cuaca laut buruk, genangan dapat menjadi lebih besar,” jelasnya.
Untuk periode 26–30 September 2026, terdapat potensi rob di sejumlah kawasan pesisir. Karena itu, masyarakat yang tinggal di daerah pesisir rendah diimbau memantau informasi pasang-surut serta peringatan dari lembaga berwenang.
Purnama Bukan Penanda Gempa Besar
Dr. Daryono juga meluruskan anggapan yang menghubungkan Bulan purnama dengan kemungkinan terjadinya gempa besar.
Ia menjelaskan adanya fenomena Earth tides, yakni perubahan atau deformasi kecil pada kerak Bumi akibat pengaruh gravitasi Bulan dan Matahari. Namun, keberadaan fenomena tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk memprediksi kapan dan di mana gempa besar akan terjadi.
“Hal ini bukan berarti purnama dapat digunakan untuk meramalkan kapan dan di mana gempa besar akan terjadi,” ujarnya.
Demikian pula dengan aktivitas gunung api. Aktivitas vulkanik pada dasarnya berkaitan dengan dinamika magma, tekanan fluida dan gas, serta kondisi masing-masing sistem gunung api.
Masyarakat Tidak Perlu Takut
Dr. Daryono mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir menyaksikan Harvest Moon. Bulan purnama dapat diamati dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat pelindung khusus.
Kewaspadaan justru perlu ditingkatkan oleh masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir rendah, khususnya daerah yang telah mendapatkan informasi mengenai pasang maksimum atau potensi rob.
Masyarakat disarankan mengamankan kendaraan maupun barang-barang penting dari lokasi yang biasa tergenang. Aktivitas di pantai juga sebaiknya dihindari apabila pasang tinggi berlangsung bersamaan dengan gelombang besar atau kondisi cuaca laut yang buruk.
“Harvest Moon bukan pembawa bencana. Pengaruh fisiknya yang paling relevan adalah terhadap pasang laut,” tegasnya.
Menurut Dr. Daryono, risiko bencana pesisir muncul ketika pasang tinggi berinteraksi dengan kondisi laut, lingkungan pesisir, serta tingkat paparan dan kerentanan masyarakat.
Dengan demikian, fenomena Harvest Moon tidak perlu ditakuti. Namun, masyarakat tetap perlu memahami dinamika pasang laut dan mengikuti informasi resmi terkait potensi rob di wilayah masing-masing.***
Editor: M. Nabil
(IFU)