Bisnisnews.net – Alun-alun Jampangkulon penuh sesak Kamis (23/7/2026). Ribuan warga, santri, dan tamu undangan dari 47 kecamatan berkumpul menyaksikan pembukaan PORSADIN VIII Tingkat Kabupaten Sukabumi. Di tengah kemeriahan itu, ada satu nama yang banyak disebut: Camat Jampangkulon, Dading.
Bagi Dading, PORSADIN VIII bukan sekadar seremoni dua tahunan. Ini adalah pamungkas pengabdiannya. Beberapa bulan lagi ia akan purna tugas sebagai ASN. Dan ia memilih menutup masa baktinya dengan mempersembahkan hajatan akbar untuk santri se-Kabupaten Sukabumi.
Hasilnya terlihat. Acara berjalan aman, lancar, dan meriah. Bupati Sukabumi, Forkopimda, hingga kepala OPD hadir. Panggung utama disemarakkan drama kolosal “Tajug Piwuruk” garapan santri Madrasah Diniyah Jampangkulon yang memukau karena mengangkat nilai budaya dan akhlak.
Yang membuat berbeda bukan hanya acaranya. Tapi cara Dading memimpin. Selama menjabat, ia dikenal bukan pejabat yang duduk di balik meja. Ia lebih sering terlihat keliling kampung naik sepeda, mampir ke majelis taklim, ngobrol dengan pedagang, dan meninjau jalan rusak.
Gaya kepemimpinan itulah yang menular ke panitia PORSADIN. Tidak ada sekat. Forkopimcam, para kiai, LMDH, karang taruna, pelaku UMKM, sampai relawan pemuda semua dilibatkan. “Kerja bareng, bukan kerja sendiri-sendiri,” begitu prinsip yang ia tanamkan.
Dari kebersamaan itu lahir identitas baru Jampangkulon: “Jampangkulon Nyate Bos”. Nyaman, Tenteram, Bari Orangna Someah. Jargon sederhana yang kemudian jadi semangat pelayanan. Bahkan liriknya dijadikan lagu dan dinyanyikan saat pembukaan PORSADIN: “Jampangkulon Nyate Bos, Jabar Istimewa, Sukabumi Mubarakah”
Dading percaya, membangun wilayah tidak cukup dengan proyek fisik. Harus ada ruh. Karena itu selama kepemimpinannya ia mendorong penguatan pendidikan diniyah, pemberdayaan UMKM, dan gotong royong pembangunan infrastruktur.
“Kita tidak bisa maju kalau hanya mengandalkan pemerintah. Harus semua unsur bergerak,” ujarnya berkali-kali dalam setiap pertemuan.
Bukti nyata terlihat di PORSADIN VIII. Dana tidak besar, waktu persiapan mepet, tapi kekompakan menutupi semua kekurangan. Warga swadaya, santri berlatih siang-malam, dan aparat kecamatan turun langsung.
Saat ditemui usai acara, Dading tak banyak bicara soal dirinya. Ia justru mengucapkan terima kasih. “Alhamdulillah, PORSADIN VIII dapat berjalan dengan aman, lancar, dan meriah berkat kerja sama seluruh pihak. Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Forkopimcam, panitia, para kiai, ustadz, santri, relawan, serta seluruh masyarakat Jampangkulon yang telah memberikan dukungan luar biasa. Semoga kegiatan ini menjadi motivasi untuk terus membina generasi muda yang berakhlak, berprestasi, dan mencintai budaya serta daerahnya.”
Bagi warga, Dading meninggalkan teladan: pemimpin itu harus hadir, mendengar, dan merangkul. Jabatan boleh selesai, tapi jejaknya tetap ada.
PORSADIN VIII pun akhirnya lebih dari sekadar lomba. Ia menjadi cermin bahwa dengan kepemimpinan yang merakyat dan semangat kebersamaan, sebuah kecamatan bisa menggelar hajatan besar dan meninggalkan inspirasi panjang bagi Kabupaten Sukabumi.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Saeful Usman)