Bisnisnews.net – Bagi warga Cibadak, Kabupaten Sukabumi, nama *Warung Nasi Haji Mamad* sudah tidak asing lagi. Warung sederhana ini jadi buruan pecinta kuliner karena menu andalannya: sop bening kaki sapi yang gurih dan melegenda.
Lokasinya pun unik. Berada di kawasan pertokoan Cibadak, masuk ke gang sempit tanpa papan nama besar. Hanya ada spanduk kain dengan foto almarhum Haji Mamad yang terpampang di dalam ruko.
Siapa sangka, warung ini sudah berdiri sejak tahun 1959. Awalnya dijual dengan cara dipikul keliling di kawasan Leuwi Goong, Cibadak. Setelah lokasi pikulan terkena longsor, usaha ini pindah ke emperan toko, hingga akhirnya masuk ruko pada 1991 dan bertahan sampai sekarang.
Kini tongkat estafet dipegang Tedi Setiadi, putra bungsu almarhum Haji Mamad. Ia meneruskan resep orang tuanya tanpa mengubah sedikit pun cita rasa.
“Peninggalan orang tua, sejak tahun 1959 dijual dengan cara dipikul. Setelah itu pindah ke emperan toko dan akhirnya bisa masuk ruko di tahun 1991 menempati sampai saat ini,” kata Tedi.
Menu unggulannya jelas: sop bening kaki, daging, dan iga sapi. Selain itu ada juga dendeng paru kering dan perkedel yang jadi favorit pelanggan tetap.
Sari (41), warga yang rela bolak-balik Jakarta-Sukabumi demi makan di sini mengaku jatuh hati sejak pertama kali mencoba.
“Rasanya sejak dahulu tidak berubah ya, tetap enak seperti sop, perkedel, paru dan babatnya enak. Harganya juga murah ya masih terjangkau,” ujarnya, Senin, 06/07/2026.
Sari bahkan kini datang hampir tiap minggu. “Setiap minggu loh saya ke sini sekarang bawa saudara dari BSD. Kalau saya sendiri dari Jakarta,” ucapnya.
Hal yang sama dirasakan Herman, warga Cibadak. Menurutnya seni makan di Haji Mamad adalah “ngesang” alias berkeringat karena tempatnya sempit.
“Makan di sini dijamin berkeringat, karena lokasinya sempit ya harus desak-desakan dan makan pun harus cepat karena banyaknya antrean. ya mungkin seninya di situ ya,” katanya.
Warung ini hanya muat 11 orang. Tapi justru kesempitan itulah yang jadi ciri khas. Pengunjung bergantian, antre, lalu makan cepat-cepat sambil menikmati kuah sop yang masih mengepul.
Soal resep, Herman memastikan tidak ada perubahan meski sudah pindah tangan. “Kalau di sini, rasanya begitu aja baik gurih maupun segarnya jadi kalau dibilang legenda ya legenda ya khususnya sop beningnya,” ujarnya.
Tedi, penerus H. Mamad mengaku sengaja tidak memasang plang di pinggir jalan karena pelanggannya sudah hafal. Saat Sabtu-Minggu warung ini ramai dikunjungi dari luar kota seperti Jakarta dan Bogor. Ke depan ia berharap bisa buka cabang.
“Mudah-mudahan ke depan bisa membuka UMKM Warung Nasi, dengan cabang di kota lain. Kalau permintaan dari pelanggan sudah banyak ya. Tinggal menunggu waktu saja,” pungkasnya.***
Editor : M. Nabil
(Aab)