Rupiah dan Rupee Jadi Pengecualian, Mata Uang Asia Mayoritas Ambruk Pekan ini

Date:

Bisnisnews.net – Mayoritas mata uang Asia mengalami tekanan pada pekan ini. Namun rupiah dan rupee India menjadi pengecualian setelah mampu mencatat penguatan mingguan.

Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat AS pada Jumat (19/6/2026). Merujuk data Refinitiv, rupiah berada di posisi Rp17.775/US$ atau terdepresiasi 0,42% pada akhir perdagangan.

Pelemahan rupiah dipengaruhi penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS menembus level 100, sehingga pelaku pasar memburu aset berdenominasi dolar AS dan membatasi ruang penguatan mata uang lain.

Kendati melemah Jumat, secara keseluruhan rupiah justru menguat 0,51% dalam sepekan. Penguatan itu ditopang kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 5,75% pada Kamis (18/6/2026).

Kenaikan suku bunga BI merupakan langkah lanjutan untuk stabilisasi rupiah. Kebijakan itu juga bersifat pre-emptive guna menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap pada sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.

BI sekaligus memperketat aturan pembelian valuta asing. Batas pembelian tunai valas terhadap rupiah tanpa underlying dipangkas menjadi US$10.000 per pelaku per bulan, berlaku mulai 1 Juli 2026.

Di Asia, rupee India menjadi mata uang dengan kinerja terbaik. Rupee melesat 0,83% sepekan dan mencatatkan penguatan mingguan tertinggi dalam 11 pekan terakhir.

Penguatan rupee ditopang masuknya dana asing ke pasar obligasi dan langkah Reserve Bank of India menarik aliran dolar. Meski sempat menguat di awal perdagangan, rupee ditutup stabil di INR 94,32 per dolar AS karena tekanan dolar global.

Sebaliknya, ringgit Malaysia tertekan paling dalam. Mata uang Malaysia melemah 1,91% sepekan. Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd Dr. Mohd Afzanizam Abdul Rashid menilai prospek suku bunga AS lebih tinggi menjadi sentimen negatif bagi ringgit.

The Fed pada Rabu (17/6/2026) menahan suku bunga di 3,50-3,75%. Namun bank sentral AS memberi sinyal kenaikan 25 basis poin lagi hingga akhir tahun. Sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan suku bunga masih perlu naik.

Yen Jepang ikut ambruk ke level terlemah sejak Juli 2024. Dolar sempat menyentuh JPY 161,8, mendekati level terlemah yen sejak 1986. BoJ menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 1,0% pada Selasa (16/6/2026), namun kesenjangan bunga dengan AS masih menekan yen.

Yuan China juga melemah ke level terendah sepekan. Pasar semakin yakin The Fed akan menaikkan suku bunga lagi akhir tahun, sehingga tekanan terhadap mata uang Asia termasuk yuan sulit dihindari.***

Editor : M. Nabil

(Aab)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Harga Emas Antam Melemah, Turun Rp32 Ribu per Gram pada Perdagangan 20 Juni 2026

Bisnisnews.net - Harga Emas Antam Melemah, Turun Rp32 Ribu...

Wisatawan Asal Bogor Ditemukan Meninggal di Pantai Pangumbahan, Anak Korban Masih Dicari Tim SAR

Bisnisnews.net – Tim SAR gabungan berhasil menemukan satu dari...

Listrik Padam Sejumlah Wilayah Sukabumi Sabtu ini, PLN ULP Cibadak Kebut Perawatan Jaringan

Bisnisnews.net – Warga di sebagian wilayah Kabupaten Sukabumi perlu...

Kemen PU Siapkan 10 Ruas Tol Baru, Ditarget Buka Fungsional Saat Nataru 2026

Wartain.com – Kementerian Pekerjaan Umum PU menyiapkan sekitar 10...