Bisnisnews.net – Tanggal 31 Mei 2026, umat Buddha memperingati Waisak 2570 BE. Kalau tahun lalu fokusnya “cinta kasih”, tahun ini ajakan Borobudur lebih personal: belajar melepas dan memaafkan.
Tiga peristiwa suci jadi satu – kelahiran, pencerahan, wafatnya Buddha – mengingatkan bahwa hidup itu siklus. Ada yang datang, ada yang pergi. Tugas kita: menjalaninya dengan bijak.
1. Makna “Melepas” di Zaman Serba Genggam
Zaman sekarang kita gampang “menggam”: dendam di medsos, ambisi kerja, ekspektasi ke orang lain. Padahal ajaran Buddha bilang, penderitaan muncul karena kemelekatan.
Waisak 2570 BE ngajak kita tanya: apa yang udah waktunya dilepas? Mungkin ego, mungkin marah lama, mungkin ekspektasi yang bikin capek sendiri. Melepas bukan berarti kalah, tapi memberi ruang buat hal baru yang lebih sehat.
2. Ritual Bukan Sekadar Simbol
Pradaksina keliling Borobudur, nyalakan lilin, tabur bunga, lepas merpati – semua itu simbol. Simbol dari gelap ke terang, dari benci ke maaf, dari aku ke kita.
“Setiap lilin yang dinyalakan itu doa. Doa supaya hati kita juga seterang lilin itu,” kata seorang umat yang ikut puja bakti subuh.
3. Waisak untuk Semua, Bukan Cuma Umat Buddha
Nilai Waisak itu universal: jangan menyakiti, banyak berbuat baik, sucikan hati. Siapa pun bisa praktek. Di kantor, kurangi gosip. Di rumah, lebih sabar dengerin orang tua. Di jalan, kasih jalan buat yang buru-buru.
Toleransi yang paling nyata itu bukan slogan, tapi tindakan kecil tiap hari.
Penutup
Selamat Hari Raya Waisak 2570 BE. Semoga kita semua belajar pelan-pelan: melepas yang menyakitkan, memaafkan yang melukai, dan menumbuhkan yang menyejukkan. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.***
Editor : M. Nabil
(Aab)