Oleh : Aam Abdul Salam/Sekjen PPJNA 98 dan Presidium MD KAHMI Sukabumi
Bisnusnews.net || Kepemimpinan bukan sekadar perkara manajemen birokrasi, melainkan sebuah laku spiritual untuk mengabdi pada kemanusiaan. Di tengah palung geopolitik global yang penuh ketidakpastian, duet Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka hadir memikul beban sejarah. Tantangannya bukan hanya badai konflik dari luar, melainkan ujian keteguhan hati menghadapi sinisme yang menyebarkan kebencian dan berbagai upaya yang hendak menggagalkan program strategis serta program pro rakyat dari dalam negeri sendiri.
Program MBG: Filosofi Memberi Makan Jiwa Bangsa
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah manifestasi dari nilai luhur “Memayu Hayuning Bawana”. Ini bukan sekadar membagikan piring makanan, melainkan upaya spiritual untuk memuliakan raga anak-anak bangsa dari kota hingga pelosok desa terdalam.
Kedaulatan Raga: Memberi makan anak adalah investasi pada “Candi Hidup” masa depan peradaban kita.
Arus Ekonomi Rakyat: Dengan anggaran ratusan triliun, MBG adalah pompa jantung ekonomi yang mengalirkan darah kesejahteraan ke UMKM dan pasar-pasar desa.
Keadilan Distributif: Kekayaan negara tidak lagi mengendap di atas, tapi membumi di dapur-dapur rakyat kecil mengalir berputar menggerakan perekonomian ke tingkat masyarakat bawah.
Menembus Kabut Caci Maki
Sangat disayangkan, sebuah ikhtiar mulia ini kerap dibenturkan dengan narasi kebencian dan caci maki. Secara filosofis, ini adalah ujian “Kawah Candradimuka” bagi kepemimpinan nasional.
Ego vs Empati: Serangan terhadap MBG seringkali datang dari pihak yang lebih mementingkan ego politik ketimbang melihat senyum anak-anak yang kenyang di pelosok negeri.
Filter Kebijaksanaan: Kritik yang konstruktif adalah obat, namun fitnah yang destruktif adalah racun yang mencoba melemahkan persatuan saat dunia sedang bergejolak.
Seruan Gotong Royong: Mengawal Amanah
Pemkab, Pemkot, dan seluruh lapisan masyarakat memegang kunci keberhasilan. Anggaran raksasa ini harus dikawal sebagai amanah suci agar benar-benar berputar di akar rumput.
Solidaritas Nasional: Inilah saatnya kita mengaktifkan kembali otot gotong royong, bahu-membahu memastikan tidak ada kebocoran dalam rantai distribusi kesejahteraan.
Persatuan Lahir Batin: Menghadapi konflik global membutuhkan barisan yang rapat, bukan energi yang habis untuk bertikai di dalam rumah sendiri.
Kepasrahan pada Pemilik Kekuasaan Sejati
Di atas segala strategi politik, kepemimpinan Prabowo-Gibran adalah sebuah perjalanan spiritual. Sejarah mencatat bahwa pemimpin yang berpihak pada kaum papa akan mendapat perlindungan dari langit.
Doa sebagai Senjata: Mendekatkan diri pada Allah SWT, pemilik alam semesta dan kekuasaan mutlak, adalah fondasi untuk menghadapi tantangan zaman.
Visi Peradaban: Dengan niat tulus (Ikhlas), Indonesia tidak hanya akan menjadi negeri adil dan makmur, tetapi pusat peradaban dunia yang unggul dan disegani.
Prabowo-Gibran adalah pasangan yang lengkap menjawab tantangan zaman. Jika rakyat bersatu dan pemimpin bertakwa , Indonesia Emas bukan lagi mimpi, melainkan takdir yang sedang kita jemput.***
Editor : M. Nabil
(Aab)