Oleh: Dede Heri, Sekjen Rumah Literasi Merah Putih
Bisnisnews.net || Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya bukan sekadar agenda pemerintah yang hadir untuk menjawab persoalan gizi anak, tetapi merupakan investasi besar bangsa dalam menyiapkan generasi masa depan. Di tengah tantangan stunting, ketimpangan akses pangan bergizi, dan kualitas sumber daya manusia yang masih menjadi pekerjaan rumah, program ini seharusnya ditempatkan sebagai ikhtiar strategis, bukan proyek yang dipandang semata dari sisi ekonomi.
Ada satu pesan mendasar yang patut terus diingat. Bung Karno pernah mengatakan, maju mundurnya suatu bangsa tergantung pemudanya. Dalam konteks hari ini, pemuda yang dimaksud sedang dipersiapkan sejak usia dini. Mereka adalah anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah, yang tumbuh dengan asupan gizi cukup, pendidikan baik, dan lingkungan yang sehat. Dari sanalah kualitas bangsa dibangun.
Karena itu, ketika negara menghadirkan MBG, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya sukses atau gagal sebuah program, melainkan masa depan generasi.
Di titik inilah semua pihak yang terlibat—yayasan, mitra dapur, penyedia bahan pangan, pengelola distribusi, hingga pengawas—memiliki tanggung jawab moral yang jauh lebih besar dari sekadar memenuhi kontrak kerja.
Program ini tidak boleh dicederai oleh praktik-praktik yang menjadikannya hanya ladang bisnis.
Sebab ketika orientasi bergeser hanya pada keuntungan, maka kualitas rawan dikorbankan. Bahan baku bisa ditekan mutunya, standar kebersihan diabaikan, porsi dipermainkan, distribusi asal-asalan, bahkan hak anak bisa tereduksi hanya demi margin keuntungan.
Jika itu terjadi, maka yang rusak bukan hanya tata kelola program.
Kepercayaan publik runtuh. Dan yang paling berbahaya, anak-anak menjadi korban.
Harus dipahami, mengelola dapur MBG bukan seperti mengelola usaha katering biasa. Ini adalah amanah sosial. Ada tanggung jawab etis, ada tanggung jawab kebangsaan.
Mitra dapur bukan hanya pelaksana teknis, tetapi bagian dari rantai pembangunan manusia Indonesia.
Karena itu, peringatan kepada seluruh yayasan dan mitra dapur agar tidak main-main dalam mengelola program ini bukanlah ancaman, melainkan pengingat keras bahwa ada nilai besar yang harus dijaga.
Jangan jadikan program yang seharusnya mulia justru tercemar oleh praktik oportunistik.
Jangan sampai semangat menghadirkan anak-anak sehat, kuat, dan cerdas berubah menjadi ruang mencari keuntungan tanpa batas.
Sebab jika program ini tidak berjalan baik dari hulu sampai hilir—mulai dari perencanaan, pengadaan bahan, pengolahan, distribusi, hingga pengawasan—maka kerugian tidak berhenti pada pelaku usaha dapur MBG.
Yang rugi adalah bangsa ini, yang rugi adalah anak-anak Indonesia, yang rugi adalah masa depan.
Keberhasilan MBG memang tidak hanya diukur dari berapa juta porsi makanan dibagikan setiap hari. Ukurannya adalah apakah makanan itu benar-benar bergizi, aman dikonsumsi, tepat sasaran, dan memberi dampak bagi tumbuh kembang anak.
* Substansinya ada di kualitas, bukan semata kuantitas.
* Karena itu, pengawasan harus diperkuat.
* Transparansi harus dibuka.
* Evaluasi harus dilakukan berkala.
* Dan jika ada mitra yang bermain-main, negara harus tegas.
Tidak boleh ada kompromi terhadap pihak yang merusak tujuan program. Sebab program sebesar ini hanya bisa berhasil jika dijalankan dengan integritas.
Pada akhirnya, MBG adalah cermin keseriusan bangsa ini dalam mempersiapkan generasi emas. Ini bukan urusan dapur semata. Ini urusan masa depan negara.
* Maka siapa pun yang terlibat, jangan melihat MBG hanya sebagai proyek.
* Lihatlah ini sebagai pengabdian.
Karena makanan yang disiapkan hari ini, sesungguhnya sedang memberi makan masa depan Indonesia.***
Editor : M. Nabil
(DH)