Bisnisnews.net || Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kecamatan Kebonpedes membawa dampak serius bagi petani cabai di Desa Kebonpedes. Hujan dengan intensitas tinggi, terutama yang turun pada malam hari, memicu ledakan serangan hama patek atau antraknosa yang merusak tanaman secara luas.
Kepala Desa Kebonpedes, Dadan Apriandani, menyebut kondisi cuaca yang tidak stabil membuat tanaman cabai rentan terserang jamur. Dampaknya tidak hanya terlihat pada buah, tetapi juga pada batang dan daun tanaman.
“Curah hujan sangat tinggi, khususnya malam hari. Banyak tanaman terserang patek. Batangnya membusuk, daun berubah kuning, dan buah muncul bercak hitam sebelum akhirnya rusak,” ujarnya, Rabu (10/2/2026).
Serangan ini datang di saat yang kurang tepat. Harga cabai merah keriting (CMK) varietas ori justru sedang berada dalam tren kenaikan. Di tingkat petani, harga berada di kisaran Rp55.000 per kilogram, sementara di pasar bisa menembus Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.
“Sebelumnya sempat Rp45.000, lalu naik lagi di pengepul sekitar Rp65.000 sampai Rp70.000. Sayangnya, banyak petani tidak bisa menikmati harga tinggi ini karena hasil panen berkurang akibat serangan patek,” kata Dadan.
Melalui Program Ketahanan Pangan yang dijalankan bersama BUMDes Amanah, desa telah mengembangkan budidaya cabai di lahan sekitar 5.000 meter persegi. Selain cabai, lahan tersebut juga ditanami komoditas lain seperti kubis dan jagung.
Namun, kondisi cuaca membuat produktivitas cabai menurun signifikan. Dari total lahan yang ditanami, sekitar 40 persen tanaman dilaporkan terdampak parah.
“Kurang lebih 60 persen yang masih bertahan dengan kondisi baik. Sisanya terdampak, bahkan ada yang gagal panen,” jelasnya.
Untuk meminimalkan kerugian, berbagai langkah penanganan terus dilakukan. Penyemprotan fungisida dilakukan secara rutin guna menghambat penyebaran jamur.
Petani juga membersihkan lahan dari sisa tanaman yang terinfeksi, serta memilah buah yang sudah menunjukkan gejala penyakit agar tidak menular ke tanaman lain. Selain itu, pengocoran nutrisi melalui akar dilakukan untuk memperkuat daya tahan tanaman yang masih sehat.
“Kami berupaya maksimal agar penyebaran tidak meluas. Buah yang sudah terinfeksi langsung dibuang. Harapannya, program ketahanan pangan tetap berjalan meski cuaca kurang mendukung,” pungkas Dadan.***(RAF)
Editor : M. Nabil