Bisnisnews.net || Bencana tanah bergerak melanda wilayah Kecamatan Bantargadung dan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut sejak akhir November. Peristiwa ini menyebabkan kerusakan serius pada permukiman warga serta sejumlah fasilitas umum.
Data sementara mencatat 28 rumah terdampak, dengan empat rumah di antaranya mengalami kerusakan berat hingga ambruk. Selain itu, akses jalan dan jaringan listrik di beberapa titik ikut terganggu akibat pergeseran tanah.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bantarkalong, Eman Sulaeman, menyebutkan bahwa dampak paling parah terjadi di Kampung Dusun Bojong Haur, Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara.
“Hujan deras yang turun pada malam Senin menyebabkan pergerakan tanah cukup besar. Empat tiang listrik roboh dan jalan utama terputus sehingga kendaraan tidak bisa melintas,” ujar Eman, Selasa (16/12/2025).
Pergerakan tanah juga dilaporkan terjadi di Kampung Pasir Gerong. Di wilayah tersebut, puluhan rumah mengalami kerusakan struktural dan dinilai berisiko untuk dihuni.
“Sekitar 20 rumah di satu RT mengalami kerusakan, mulai dari retak hingga roboh. Kondisinya cukup membahayakan bagi warga,” katanya.
Menurut Eman, gejala pergerakan tanah sebenarnya telah dirasakan warga sejak 20 November, namun kondisinya semakin parah pada awal Desember usai hujan turun terus-menerus selama dua hari dua malam.
Salah seorang warga terdampak, Nurdin (40), mengungkapkan bahwa peristiwa paling parah terjadi pada dini hari.
“Kejadian besarnya sekitar jam tiga subuh. Sekarang kami mengungsi ke rumah keluarga yang lebih aman, meskipun rumah tersebut juga terdampak,” tutur Nurdin.
Sementara itu, di Desa Bojonggaling, Kecamatan Bantargadung, bencana serupa menyebabkan delapan rumah rusak, dengan empat rumah ambruk.
Kepala Dusun 2 Desa Bojonggaling, Cecep Subrata, mengatakan pergerakan tanah berlangsung secara perlahan namun terus meluas.
“Total ada delapan rumah terdampak. Kami bersama BPBD terus memantau kondisi. Bantuan sementara yang sudah disalurkan baru berupa enam paket sembako,” ujarnya.
Tak hanya merusak rumah warga, pergeseran tanah juga mengakibatkan jalan desa ambles sepanjang sekitar 30 meter dan berdampak pada area persawahan.
“Dari pengamatan di lapangan, tanah masih bergerak. Kedalaman jalan yang amblas terus bertambah,” ungkap Cecep.
Warga lainnya, Sujana, mengaku rumahnya mengalami kerusakan parah akibat pergerakan tanah yang terus terjadi sejak akhir November.
“Tanah terus turun, lantai dan keramik hancur. Kalau hujan kami memilih mengungsi karena khawatir listrik roboh,” katanya.
Saat ini, warga yang rumahnya rusak berat terpaksa mengungsi ke rumah sanak keluarga di lokasi yang dianggap lebih aman. Sejumlah warga juga melaporkan kerusakan pada peralatan rumah tangga akibat bencana tersebut.
Pemerintah desa dilaporkan telah menyampaikan kejadian ini ke pihak kecamatan hingga pemerintah pusat dan masih menunggu tindak lanjut penanganan lebih lanjut.
“Laporan sudah disampaikan oleh kepala desa, sementara pendataan dan penanganan awal dilakukan bersama Pukesos,” tutup Cecep.***(RAF)
Editor : M. Nabil