Bisnisnews.net || Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menunjukkan manfaat yang lebih luas dari sekadar penyediaan makanan untuk pelajar. Di Dapur SPPG Limusnunggal 3, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, limbah makanan yang dihasilkan setiap hari justru menjadi peluang baru bagi para peternak ikan di wilayah tersebut.
Alih-alih berakhir di tempat pembuangan, sisa makanan berupa sayuran dan nasi diserap oleh warga untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan. Praktik sederhana ini bukan hanya mengurangi jumlah sampah dapur, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi peternak dalam menekan biaya operasional.
Salah satu penerima manfaatnya adalah Asep Mulyadi. Tinggal hanya beberapa ratus meter dari dapur, Asep rutin mengambil limbah makanan setiap sore. Dalam sehari, ia membawa pulang 150 hingga 200 kilogram limbah yang kemudian diberikan kepada lele, nila, dan bawal yang ia pelihara di delapan kolam.
“Sejak ada limbah ini, beban pakan jadi jauh lebih ringan. Bisa dipakai untuk ikan dan bebek juga. Warga memang banyak yang ternak, jadi limbah MBG ini sangat menolong,” ungkap Asep, Minggu (16/11/2025).
Pengeluaran Turun, Produktivitas Tetap Aman
Sebelum memanfaatkan limbah MBG, Asep harus menyediakan 15–20 kilogram pelet setiap hari per kolam. Biaya itu kini berkurang drastis. Hanya di hari tertentu saja ia menggunakan pelet, itupun sekitar 3 hingga 6 kilogram.
“Limbahnya lumayan. Lima hari saya pakai limbah, sisanya baru pelet. Ikan pun tetap tumbuh baik,” jelasnya.
Menurut Asep, komposisi limbah yang banyak mengandung sayuran dan nasi sangat cocok sebagai pakan tambahan bagi ikan, terutama nila dan bawal. Selama pengelolaan dilakukan dengan baik, ia menilai tidak ada masalah dengan kesehatan maupun pertumbuhan ikan.
Dimulai dari Obrolan dengan Warga
Penyaluran limbah ke peternak bukanlah program yang direncanakan sejak awal. Angga Kameswara, PIC Dapur SPPG Limusnunggal 3, menceritakan bahwa ide ini muncul dari diskusi sederhana dengan warga sebelum dapur beroperasi.
“Sebelum mulai jalan, kami ngobrol dengan RT, RW, dan Karang Taruna. Dari situ kami tahu banyak warga yang hidup dari ternak ikan. Jadi ketika kami memikirkan soal pengelolaan limbah, warga menawarkan diri untuk menampung,” ujar Angga.
Dalam praktiknya, jumlah limbah yang keluar dari dapur mencapai lebih dari lima kilogram per hari. Semuanya diberikan kepada warga tanpa biaya. Setidaknya lima peternak kini secara rutin memanfaatkan limbah tersebut.
Limbah yang dominan berupa sayuran dan nasi juga membuat proses distribusi lebih aman, karena jenis ini lebih mudah diolah kembali sebagai pakan.
“Kami senang karena semua pihak merasa terbantu. Sampah berkurang, peternak bisa menghemat biaya, dan kami di dapur tidak pusing lagi memikirkan pembuangan limbah,” tambah Angga.
Ia berharap kerja sama sederhana namun berdampak ini dapat menjadi rujukan bagi dapur MBG lain di Sukabumi. “Kalau hal kecil seperti ini bisa bermanfaat untuk banyak orang, tentu sayang kalau tidak diteruskan,” tutupnya.***(RAF)
Editor : M. Nabil