Bisnisnews.net || Upaya memperkenalkan pencak silat khas Sukabumi ke kancah internasional kembali membuahkan hasil. Perguruan silat Sang Maung Bodas mengirim lima pelatih muda terbaiknya ke Singapura untuk memberikan pelatihan intensif kepada ratusan pesilat di negara tersebut.
Sebagai salah satu aliran silat asli Sukabumi, Sang Maung Bodas telah lebih dari satu dekade konsisten menghidupkan kembali ajaran leluhur sekaligus memopulerkannya hingga ke luar negeri. Konsistensi itu kini mulai terlihat hasilnya.
Warisan Leluhur yang Menembus Perbatasan
Guru Besar PS Sang Maung Bodas, KH Fajar Laksana, mengatakan bahwa keberangkatan para pelatih ini merupakan bagian dari misi pelestarian budaya, bukan sekadar aktivitas pertukaran teknik bela diri.
“Yang kami bawa bukan hanya jurus. Kami membawa ruh budaya yang diwariskan turun-temurun. Alhamdulillah, silat Sukabumi kini semakin dikenal di luar negeri,” ungkap Fajar, Minggu (16/11/2025).
Sang Maung Bodas sendiri merupakan aliran yang dikembangkan dari warisan keluarga Fajar, yang kemudian dirumuskan menjadi sistem beladiri komprehensif seperti saat ini.
Di Singapura, para pelatih akan membawakan materi jurus baku IPSI—tunggal, ganda, dan beregu—serta jurus kreasi. Mereka juga memperkenalkan jurus khas Sang Maung Bodas seperti Golok Kala Petok, Maung Keubet, Panca Kinanti, dan atraksi tradisional Boles atau lempar bola api.
Selain misi budaya, Fajar menegaskan bahwa peluang ekonomi dari profesi pelatih silat juga sangat menjanjikan. Para pelatih yang diutus ke luar negeri dapat memperoleh pendapatan puluhan juta rupiah per bulan.
“Budaya jika dikelola dengan profesional akan menjadi mata pencaharian yang bernilai, tanpa menghilangkan jati dirinya,” terangnya.
Dari Padepokan ke Negeri Singa
Salah satu pelatih, Muhamad Apriansyah (25), atau Mio, menyampaikan bahwa ia dan empat rekannya akan menangani sekitar 100 pesilat serta 60 pelatih di Grasio Sport Silat School, Singapura.
“Pesertanya beragam, dari anak-anak sampai dewasa. Materi dan kurikulum sudah kami siapkan sejak masih di Sukabumi,” jelas Mio.
Sebagai peraih juara 2 Indonesia Open Pencak Silat 2022, Mio merasa cukup siap menghadapi tantangan. Ia mengatakan komunikasi selama pelatihan tidak menjadi masalah karena ia dan tim dapat menggunakan bahasa Indonesia, Melayu, maupun Inggris.
Kerja sama dengan Singapura ini terjalin setelah beberapa pesilat negara tersebut pernah berlatih di Padepokan Sang Maung Bodas. Para peserta pelatihan diproyeksikan untuk berlaga pada kompetisi pencak silat di Johor, Malaysia.
“Kami akan berada di Singapura hingga 1 Januari 2026. Mudah-mudahan langkah ini jadi jembatan untuk membuka akses ke Eropa dan negara lainnya,” harapnya.
Silat, Identitas Budaya dan Daya Tarik Wisata
Ketua IPSI Kota Sukabumi, Mohamad Muraz, memberikan penghargaan atas kiprah Sang Maung Bodas dalam membawa pencak silat menuju perhatian dunia. Menurutnya, keberadaan perguruan silat kini menjadi salah satu magnet wisata berbasis budaya di Sukabumi.
“Banyak wisatawan yang datang untuk belajar silat dan sekaligus mengenal budaya Sunda. Dampaknya sangat terasa, bukan hanya bagi perguruan tetapi juga masyarakat,” tutur Muraz.
Muraz menambahkan bahwa aliran Sang Maung Bodas saat ini tengah diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) tingkat Jawa Barat. Status itu menjadi nilai tambahan karena perguruan ini tumbuh dari lingkungan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, yang memang sangat kental dengan tradisi budaya.
Di sisi lain, perpaduan padepokan dan pesantren turut menjadikan Sukabumi sebagai salah satu destinasi wisata ramah muslim unggulan di Jawa Barat.
Muraz menegaskan, pencak silat bukan hanya disiplin bela diri, tetapi juga wadah pembentukan karakter.
“Silat membentuk pribadi yang sabar, berani, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai itu yang membuat seni bela diri ini istimewa,” tutupnya.***(RAF)
Editor : M. Nabil