Bisnisnews.net || Kasus penebangan liar di kawasan Blok Cangkuang, lereng Gunung Salak, Kabupaten Sukabumi, menyingkap rapuhnya sistem pengawasan hutan di Jawa Barat. Aktivitas ilegal logging yang diduga sudah berlangsung lebih dari dua tahun itu baru disorot setelah dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Blok Cangkuang sejatinya adalah wilayah strategis karena menjadi hulu air bagi Cidahu dan Parungkuda. Namun, pembalakan tanpa kendali justru menggerus fungsi resapan, hingga menyebabkan banjir berulang di daerah hilir.
“Ketika pengawasan lemah, yang dikorbankan bukan hanya hutan, tapi juga keselamatan warga,” ujar Rozak Daud dari Tim Advokasi Warga Cidahu, Rabu (9/9/2025).
Menurutnya, dampak ekologis dari penebangan liar jauh lebih luas. Berkurangnya vegetasi membuat lereng Gunung Salak rawan longsor, sementara satwa endemik seperti elang jawa dan macan tutul jawa kehilangan habitatnya.
Lebih memprihatinkan lagi, warga kerap menyaksikan para pelaku membawa alat potong kayu secara terbuka tanpa pernah ada tindakan tegas dari aparat maupun pengelola Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
“Kalau aktivitas ini bisa berlangsung terang-terangan, berarti ada pembiaran. Pengawasan seharusnya aktif, bukan menunggu bencana datang,” tegas Rozak.
Ia menilai kondisi ini menjadi ujian serius bagi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang selama ini dikenal vokal dalam isu penyelamatan lingkungan.
“Komitmen penyelamatan hutan harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan hanya pernyataan,” ujarnya.
Melihat ancaman yang semakin besar, warga bersama Fraksi Rakyat berencana turun ke jalan mendesak pemerintah daerah dan TNGHS segera menghentikan praktik ilegal logging.***(RAF)
Editor : M. Nabil