Bisnisnews.net – Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memiliki cerita panjang tentang perubahan wilayah sekaligus potensi ekonomi yang terus berkembang.
Desa yang kini berada di kawasan Simpenan ini tidak hanya memiliki bentang alam khas selatan Sukabumi, tetapi juga menyimpan peluang pengembangan ekonomi melalui pertanian, peternakan, pariwisata, UMKM dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Tantangannya adalah bagaimana berbagai potensi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terhubung menjadi sebuah ekosistem ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Kertajaya sendiri memiliki sejarah administratif yang cukup menarik. Pemerintah Kabupaten Sukabumi pada 2012 menetapkan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2012 tentang pemekaran Desa Kertajaya menjadi Desa Kertajaya dan Desa Sangrawayang Kecamatan Simpenan. Pemekaran tersebut dilakukan antara lain dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Sejarah itu menunjukkan bahwa perkembangan Kertajaya tidak dapat dilepaskan dari dinamika penataan wilayah dan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan pemerintahan yang lebih dekat.
Kini, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membangun pemerintahan desa, tetapi bagaimana desa mampu mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya menjadi kekuatan ekonomi.
Pertanian dan Ketahanan Pangan
Salah satu peluang yang terlihat jelas adalah sektor pertanian.
Pada Juli 2025, Desa Kertajaya menjadi lokasi penanaman jagung serentak Kuartal III yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Desa Kertajaya dan kelompok tani. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan.
Sebelumnya, kegiatan penanaman jagung tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Wakil Bupati Sukabumi saat itu mendorong agar pengembangan pangan tidak berhenti pada produksi, tetapi dilanjutkan dengan pembangunan industri turunan sehingga hasil pertanian memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Gagasan tersebut menjadi penting bagi Kertajaya.
Pertanian akan memberikan dampak ekonomi lebih besar apabila tidak hanya menghasilkan komoditas mentah, tetapi juga membangun rantai pengolahan, pengemasan dan pemasaran.
Jagung, misalnya, dapat dikembangkan tidak hanya sebagai hasil panen, tetapi diarahkan pada berbagai produk turunan sesuai kondisi pasar dan kemampuan masyarakat.
Dengan demikian, petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi yang lebih panjang.
Dari Lahan Pertanian Menuju Ekonomi Terintegrasi
Pengembangan pertanian juga dapat dikaitkan dengan peternakan.
Konsep pertanian terpadu memungkinkan hasil samping pertanian dimanfaatkan untuk kebutuhan peternakan, sementara limbah ternak dapat diolah menjadi pupuk organik.
Siklus tersebut menciptakan pola ekonomi yang lebih efisien:
Pertanian → Pakan → Peternakan → Pupuk Organik → Pertanian.
Model semacam ini berpeluang dikembangkan melalui kelompok tani, kelompok peternak maupun kelembagaan ekonomi desa.
Selain meningkatkan efisiensi, integrasi tersebut dapat membuka sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Yang terpenting, pengembangan sektor pertanian dan peternakan perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, ketersediaan air, kemampuan masyarakat serta kebutuhan pasar.
UMKM Menjadi Kunci Hilirisasi
Potensi sumber daya desa tidak akan memberikan nilai ekonomi maksimal jika seluruh hasilnya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Di sinilah UMKM memiliki posisi strategis.
Produk pertanian dan peternakan dapat diolah menjadi makanan, produk pangan, pakan, pupuk organik atau berbagai produk lain sesuai potensi dan regulasi yang berlaku.
Selain itu, usaha perdagangan, jasa, kuliner dan ekonomi kreatif juga dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.
Pengembangan UMKM membutuhkan lebih dari sekadar bantuan modal.
Legalitas usaha, kualitas produk, kemasan, branding, pemasaran digital dan akses pasar harus menjadi bagian dari penguatan kapasitas pelaku usaha.
Jika dikelola dengan pendekatan tersebut, UMKM bukan sekadar usaha tambahan rumah tangga, tetapi dapat menjadi salah satu mesin ekonomi desa.
Potensi Wisata Kertajaya
Kawasan Simpenan juga memiliki potensi wisata yang telah masuk dalam perhatian pemerintah.
Dokumen perencanaan pengembangan destinasi wisata Jawa Barat bahkan mencantumkan wisata Simpenan di Desa Kertajaya sebagai salah satu potensi wisata dalam kawasan Pelabuhanratu-Ciletuh-Ujunggenteng dan sekitarnya. Dokumen tersebut juga menekankan pentingnya aksesibilitas, transportasi, sarana pendukung, teknologi informasi dan keberlanjutan lingkungan dalam pengembangan pariwisata.
Potensi tersebut memberikan ruang bagi Kertajaya untuk mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat.
Konsepnya tidak harus selalu berupa pembangunan destinasi besar.
Wisata alam, wisata edukasi pertanian, kuliner lokal, aktivitas masyarakat, produk UMKM serta pengalaman kehidupan pedesaan dapat dikemas menjadi bagian dari wisata berbasis desa.
Namun, pengembangan wisata harus bertumpu pada objek dan aset yang benar-benar berada di wilayah Desa Kertajaya serta memperhatikan status, akses, kepemilikan, daya dukung lingkungan dan kesiapan masyarakat.
Infrastruktur Menjadi Tantangan
Di balik peluang tersebut, Kertajaya masih menghadapi persoalan yang tidak bisa diabaikan: konektivitas.
Dalam kegiatan reses Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Sukabumi Hamzah Gurnita di Desa Kertajaya pada 5 Juni 2026, persoalan infrastruktur jalan dan pengembangan potensi wisata menjadi aspirasi utama masyarakat. Aspirasi lain yang disampaikan mencakup pertanian dan aktivitas pertambangan.
Persoalan infrastruktur menjadi penting karena jalan merupakan urat nadi ekonomi desa.
Produk pertanian membutuhkan akses untuk dibawa menuju pasar. Wisatawan membutuhkan jalan yang aman dan nyaman. Pelaku UMKM membutuhkan konektivitas untuk distribusi produk.
Artinya, peningkatan kualitas infrastruktur bukan hanya persoalan transportasi, tetapi bagian dari strategi ekonomi.
Ketika akses membaik, biaya distribusi berpeluang lebih efisien, mobilitas masyarakat meningkat dan potensi ekonomi menjadi lebih mudah terhubung dengan pasar.
Pemuda sebagai Penggerak Ekonomi Baru
Transformasi ekonomi Kertajaya juga membutuhkan peran generasi muda.
Pemuda dapat mengambil posisi sebagai penggerak digitalisasi desa, promosi wisata, pemasaran produk UMKM, pengelolaan media sosial, ekonomi kreatif hingga inovasi pertanian.
Potensi yang selama ini berada di desa dapat diperkenalkan ke pasar yang lebih luas melalui teknologi digital.
Sebuah produk pertanian, misalnya, tidak harus berhenti pada transaksi di pasar lokal. Dengan pengemasan, branding dan pemasaran yang tepat, produk dapat diperkenalkan kepada konsumen di wilayah lain.
Begitu pula potensi wisata.
Media sosial dapat menjadi etalase murah bagi desa untuk memperkenalkan keindahan alam, aktivitas pertanian, kuliner dan produk masyarakat.
Sumber Daya Alam Harus Dikelola Bijaksana
Kertajaya juga berada dalam kawasan yang memiliki potensi sumber daya alam dan mineral.
Kajian akademik mengenai geologi dan mineralisasi wilayah Kertajaya, Simpenan, menunjukkan adanya karakter geologi dan mineralisasi yang menjadi objek penelitian ilmiah.
Di sisi lain, aktivitas alat berat di kawasan Cigenol, Desa Kertajaya, sempat menjadi perhatian publik pada 2026. Pihak perusahaan yang diberitakan menyatakan kegiatan tersebut berkaitan dengan persiapan industri pengolahan hasil bumi dan rencana penataan tambang rakyat agar lebih terarah secara legal.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya alam membutuhkan tata kelola yang hati-hati.
Pengembangan ekonomi harus berjalan seiring dengan kepastian hukum, perlindungan lingkungan, keselamatan masyarakat dan kejelasan manfaat ekonomi bagi warga.
Sumber daya alam seharusnya tidak hanya dilihat dari nilai ekonominya, tetapi juga dari dampak jangka panjang terhadap ruang hidup masyarakat.
Membangun Ekonomi dari Potensi Lokal
Jika berbagai potensi tersebut dirangkai, Kertajaya memiliki peluang membangun model ekonomi desa yang saling terhubung.
Pertanian menghasilkan bahan baku.
Peternakan memperkuat ekonomi produktif.
UMKM mengolah dan meningkatkan nilai tambah.
Pariwisata membuka pasar baru.
Pemuda memperkuat digitalisasi.
Infrastruktur menghubungkan seluruh aktivitas ekonomi dengan pasar.
Rangkaian tersebut menjadi penting karena pembangunan desa pada akhirnya bukan sekadar tentang banyaknya program, melainkan tentang seberapa kuat program tersebut menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Kertajaya dan Agenda Kemandirian Ekonomi
Kertajaya memiliki modal yang cukup untuk dikembangkan menjadi desa dengan basis ekonomi lokal yang kuat.
Namun, potensi tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan.
Dibutuhkan perencanaan berbasis data, penguatan kelembagaan desa, peningkatan keterampilan masyarakat, akses modal, kepastian pasar dan infrastruktur yang mendukung.
Kolaborasi pemerintah desa, kelompok tani, pelaku UMKM, pemuda, masyarakat, pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Arah pembangunan dapat diletakkan pada sebuah gagasan besar:
“Kertajaya sebagai Desa Produktif Berbasis Pertanian, Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat.”
Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Desa bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang produksi, ruang inovasi sekaligus ruang tumbuhnya ekonomi lokal.
Pada akhirnya, masa depan Kertajaya tidak hanya ditentukan oleh luas wilayah dan sumber daya yang dimilikinya.
Yang lebih menentukan adalah kemampuan masyarakat mengolah potensi tersebut menjadi nilai tambah.
Dari lahan menjadi pangan.
Dari hasil bumi menjadi produk.
Dari potensi alam menjadi wisata.
Dari kreativitas pemuda menjadi ekonomi digital.
Dan dari seluruh potensi tersebut, tercipta satu tujuan utama: meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Kertajaya secara berkelanjutan.
Kertajaya memiliki modalnya. Tantangan berikutnya adalah bagaimana modal tersebut dikelola menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.***
Editor : M. Nabil
(DH)