Konsep Nasab dalam Perspektif Ahli Dzikir, Dengan Sudut Pandang Spiritual dan Sosial

Date:

Oleh : Ikin Abdurrahman/Direktur Majelis Dzikir Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih

Bisnisnews.net || Akhir-akhir ini -baik di media sosial maupun dalam obrolan di warung kopi- kita disibukan dengan Polemik Nasab yang mengarah pada konflik dan perpecahan dalam tubuh ummat Islam, yang sangat mungkin isu ini kemudian dimanfaatkan pihak-pihak atau oknum tertentu untuk mengadu domba dan menciptakan instabilitas negeri bahkan disintegrasi anak bangsa. Tentu kita semua sangat prihatin atas terjadinya hal ini.

Nasab adalah konsep yang penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk spiritual, sosial, dan budaya. Dalam perspektif spiritual, nasab sering dikaitkan dengan asal muasal manusia yang bersifat hakiki, yaitu hubungan antara manusia sebagai makhluk (yang diciptakan) dengan Allah sebagai Tuhan Sang Khalik (Yang Menciptakan). Sementara itu, dalam perspektif sosial, nasab lebih sering dikaitkan dengan hubungan keluarga, keturunan, dan asal-usul seseorang.

1. Nasab yang Bersifat Hakiki

Nasab yang bersifat hakiki adalah nasab yang berkaitan dengan asal muasal (Nisbat) manusia yang bersifat spiritual. Dalam perspektif Islam, manusia secara esensial diciptakan dari Nur Muhammad, yang merupakan cahaya suci spiritual yang berasal dari Tuhan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 156 :

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).
(Al-Baqarah : 156)

.“Nur Muhammmad adalah awal yang ada dan dialah semulia-mulia makhluk, dan karena dialah Allah menciptakan alam seluruhnya
(Lihat. At Ta’rifat hal. 90)

Dalam perspektif ini, nasab yang bersifat hakiki adalah hubungan sakral antara manusia dengan Tuhan, dan semua manusia memiliki asal muasal yang sama. Dalam hal ini, yaitu sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan sebagai hamba-Nya.

Pada wilayah ini -Nisbah (asal muasal) dalam perspektif spiritual- tidak boleh disalah tafsirkan dan dipandang sempit, umpamanya dalam spiritualitas Islam ada istilah Ahlullah (ahli Allah) tentu ini jangan difahami dengan sudut pandang keluarga yang bersifat genetik (organis-bioligis) karena akan berdampak fatal, yaitu menyebabkan seseorang menjadi kafir. Karena Allah SWT tidak beranak dan tidak diperankan
“Lam yalid wa lam yulad” dia tidak beranak dan tidak pula diperankan
(Al – Ikhlas : 4)

2. Nasab yang Bersifat Majazi

Nasab yang bersifat majazi adalah nasab yang berkaitan dengan hubungan keluarga, keturunan, dan asal-usul seseorang. Contoh-contoh nasab yang bersifat majazi adalah :

– Nasab Berdasarkan Genetik : 

Nasab ini berkaitan dengan hubungan keluarga dan keturunan seseorang, seperti anak, cucu, cicit, Atau ayah/ibu, kakek, buyut, dan seterusnya.

“Dan Dialah yang menciptakan manusia dari air, kemudian Dia jadikan manusia itu mempunyai keturunan dan famili”
(QS Al-Furqan : 54).

Banyak manusia menisbatkan dirinya dengan hubungan keluarga (Baca : Bani dalam bahasa Arab), sehingga muncullah banyak Bani, seperti Bani Israil, Bani Hasyim, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, Bani Utsmaniyah, Bani Jawi, Bani Alawi, Bani Walisanga, dan sebagainnya. Walaupun demikian ujung-ujungnya semua Bani (keluarga) ini bermuara dan berakhir di Bani Adam.

Inilah Bani-bani yang berdasarkan pada hubungan keluarga (genetik, organis-bioligis), walau demikian tetap pelabuhan terakhir dari semuanya berakhir di satu Bani yakni Bani Adam (Keluarga, Anak-Cucu Keturunan Nabi Adam AS).

Nasab Berdasarkan Asal/Tempat Kelahiran : 

Nasab ini berkaitan dengan tempat/tanah kelahiran atau asal-usul seseorang di mana ia dilahirkan dan atau bertumbuh kembang, maka tidak heran dalam pergaulan sehari-hari kita sering mengaitkan seseorang berdasarkan asal tempat kelahirannya, seperti anak Palabuhanratu, anak Sukabumi, anak Jakarta, anak Menteng, anak Melayu, Anak Indonesia dan sebagainya.

Pada tataran nasab (asal usul) ini melahirkan berbagai keluarga besar, suku-suku dan bangsa-bangsa. Allah SWT berfirman yang artinya :

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal.”
(Al-Hujurat : 13)

– Nasab Berdasarkan Ilmu/Pendidikan:

Nasab ini berkaitan dengan latar belakang pendidikan, tempat belajar seseorang atau background ilmu pengetahuan seseorang, seperti anak TK, anak SD, anak Santri, anak Sekolah, anak kedokteran, anak IPA, anak IPS, dan sebagainya.

Tentu semua nasab di atas penting, namun setiap sudut pandang dari jenis-jenis nasab itu memiliki perbedaan titik tekan dan porsi masing-masing. Dalam beberapa hadits, Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan tentang pentingnya nasab dalam hubungan keluarga dan sosial, karena semua itu berkaitan erat dengan hukum-hukum fiqih seperti perkawinan, perwalian, hak warits, mempererat silaturahim dan sebagainya.

Namun, perlu diingat bahwa nasab yang bersifat hakiki -yaitu nasab spiritual- lebih penting daripada nasab yang bersifat majazi, nasab spiritual inilah tolok ukur kemuliaan seseorang, karena nasab yang bersifat hakiki berkaitan dengan hubungan sakral antara manusia dengan Tuhan.

“Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (Hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya.”
(Al-Mu’minun : 101)

Dalam buku “melihat Allah” (ru’yatullah) Syaikkh An-Nafri, yang diterjemahkan Musthafa Mahmoud mengatakan “hamba yang berdaya untuk mengalahkan tabiatnya sendiri adalah menjadi dalil yang nyata bahwa hamba tersebut telah mengenal dirinya dan telah pula mencapai kemuliaan nasabnya dengan adanya suatu pertalian ruh (spirit suci) yang erat dan berkait kepada Allah (تمت الى الله) bukan jasad (genetik, organis-biologis) yang bernasab pada tanah”
(Melihat Allah, halaman : 33) (***)

Foto : Ilustrasi

Editor : M. Nabil

(Aab)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Temui Wamenpora, Pemkot Sukabumi Usulkan Revitalisasi Stadion dan Pembangunan Fasilitas Pemuda

Bisnisnews.net || Pemerintah Kota Sukabumi melakukan audiensi dengan Wakil...

Mediasi Gagal, Sengketa Lahan Dapur SPPG di Pamuruyan Berlanjut ke Jalur Hukum

Bisnisnews.net || Polemik kepemilikan lahan yang kini digunakan sebagai...

Gogosan Jalur Akibat Hujan Deras, Perjalanan KA Siliwangi Sukabumi–Cipatat Dihentikan Sementara

Bisnisnews.net || Perjalanan KA Siliwangi (345) relasi Cipatat–Sukabumi kembali...

UU PPRT Disahkan, Jutaan Pekerja Rumah Tangga Kini Wajib Dapat THR, Cuti, dan BPJS

Bisnisnews.net || Pengesahan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT)...