Bisnisnews.net || Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh tekanan, Reni Rahmawati (23) akhirnya pulang ke rumahnya di Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Kepulangannya pada Rabu malam, 19 November 2025, menjadi jawaban dari penantian keluarga yang selama berbulan-bulan dihantui ketidakpastian.
Reni tiba ditemani ibunya, kuasa hukum, dan keluarga dekat. Ia mengaku lega akhirnya bisa kembali setelah enam bulan tinggal di Cina bersama seorang pria yang menikahinya tak lama setelah ia tiba di negara tersebut.
“Ya senang, itu yang Reni tunggu dari awal,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).
Sejak berada di Cina, Reni sudah berupaya mencari jalan pulang dengan menghubungi keluarganya. Proses pemulangannya tidak singkat: laporan keluarga memakan waktu sekitar tiga bulan untuk diproses, ditambah tahap perceraian di Cina yang mengharuskannya menunggu 30 hari.
Upaya pencarian Reni sempat terhambat karena ia tidak mengetahui lokasi tempat tinggalnya dengan jelas. Tim dari KJRI baru dapat menemukan dan menjemputnya setelah melalui rangkaian penelusuran yang cukup panjang. Reni akhirnya diterbangkan kembali ke Indonesia pada 18 November 2025.
“Awalnya Reni enggak tahu tempatnya di mana, jadi sulit. Untung KJRI akhirnya berhasil menemukan,” tuturnya.
Saat ini, Reni akan menjalani pemulihan psikologis dan konseling dengan pendampingan dari DP3A Kabupaten Sukabumi. Meski ingin kembali bekerja, ia memastikan tidak akan mengambil pekerjaan di luar negeri dalam waktu dekat.
“Kalau kerja mah mau, tapi enggak mau ke luar negeri lagi. Takut. Pengalaman kemarin jauh dari yang dibayangkan. Mending di Indonesia, mungkin kerja di pabrik,” katanya.
Ibunya, Emalia (55), tak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. Ia mengaku selama ini terus berharap putrinya bisa pulang dengan selamat.
“Senang sekali. Dari dulu nunggu terus tiap bulan, tapi enggak pulang-pulang. Sekarang Alhamdulillah sudah sampai rumah,” ujarnya.
Sebagai orang tua, ia memperbolehkan Reni kembali bekerja, tetapi hanya di Indonesia.
“Kalau di Indonesia mah enggak apa-apa. Kalau ke luar negeri saya enggak izinkan. Mudah-mudahan dia juga enggak mau lagi,” tegasnya.
Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Sukabumi, Jejen Nurjanah, menilai bahwa kondisi Reni masih rapuh dan membutuhkan penanganan serius.
“Kondisinya belum stabil. Dia perlu waktu untuk menenangkan diri dan memulihkan trauma,” jelas Jejen.
Menurutnya, DP3A akan melakukan asesmen psikologis dalam waktu dekat untuk menentukan bentuk pendampingan terbaik bagi Reni.***(RAF)
Editor : M. Nabil