Bisnisnews.net || Kota Sukabumi kembali menjadi bagian dari program perbaikan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Tahun ini, sebanyak 159 unit rumah tidak layak huni (Rutilahu) akan direnovasi berkat sinergi antara Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Provinsi Jawa Barat.
Namun lebih dari sekadar program bantuan, proses perbaikan hunian ini menyimpan cerita kolaboratif yang kuat antara pemerintah, fasilitator lapangan, dan warga penerima manfaat.
Ketua Koordinator Fasilitator Program Bantuan Rutilahu Wilayah I Jawa Barat, Ajat Jatnika, menekankan pentingnya keterlibatan fasilitator sebagai penghubung antara kebijakan dan realitas di lapangan.
“Tenaga fasilitator lapangan menjadi ujung tombak. Mereka melakukan sinkronisasi data, verifikasi kondisi rumah, hingga mendampingi penyusunan proposal dan proses administrasi bantuan. Ini bukan sekadar soal pembangunan fisik, tapi juga proses memberdayakan,” kata Ajat saat ditemui pada Minggu (29/6/2025).
Bantuan renovasi menyasar rumah-rumah yang secara teknis terbukti tidak memenuhi standar kelayakan, seperti tidak adanya sanitasi, pencahayaan dan sirkulasi udara buruk, serta luas ruang yang tidak memadai. Kriteria lainnya adalah kepemilikan tanah pribadi yang sah dan belum pernah menerima bantuan serupa.
Sementara itu, Kepala Seksi Perumahan DPUTR Kota Sukabumi, Ruswandi, menjelaskan bahwa warga dari enam kelurahan, yaitu Cikondang, Citamiang, Nanggeleng, Selabatu, Cipanengah, dan Sindang Palay, akan menjadi penerima manfaat. Nilai bantuan per unit rumah sebesar Rp20 juta, dan pelaksanaannya akan dilakukan langsung oleh warga penerima bantuan dengan pendampingan dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).
“Skema ini mendorong warga untuk aktif terlibat dalam perbaikan rumah mereka sendiri, baik dari segi perencanaan hingga pengerjaan. Harapannya tidak hanya rumah yang berubah, tapi juga tumbuh rasa kepemilikan dan tanggung jawab,” jelas Ruswandi.
Renovasi dijadwalkan mulai pertengahan Juli, setelah proses administrasi tuntas dan data penerima tervalidasi secara menyeluruh.
Melalui pendekatan yang partisipatif ini, program Rutilahu tidak hanya menyentuh aspek fisik bangunan, tetapi juga membangun semangat gotong royong dan pemberdayaan masyarakat dari akar rumput.***(RAF)
Editor : M. Nabil