Bisnisnews.net – Nilai tukar rupiah pekan ini diproyeksikan bergerak di area Rp17.800–Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS). Proyeksi ini muncul setelah rupiah ditutup rebound terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (25/9/2026), seiring upaya diplomasi Iran-AS membuka Selat Hormuz.
Berdasarkan data analisis Traze Andalan Futures, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 0,07 persen atau naik 13 poin ke level Rp17.903 per dolar AS.
Rebound rupiah pada penutupan sore itu bertepatan dengan menguatnya mayoritas mata uang kawasan Asia terhadap greenback.
Won Korea Selatan tampil paling perkasa dan memimpin penguatan di kawasan dengan menguat 1,08 persen, diikuti yen Jepang menguat 0,45 persen, peso Filipina 0,43 persen, ringgit Malaysia 0,34 persen, baht Thailand 0,31 persen, dolar Taiwan 0,24 persen. Rupee India menguat 0,12 persen dan dolar Singapura menguat 0,09 persen. Sebaliknya, yuan China melemah 0,03 persen dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen global yang bervariasi.
Dari sisi eksternal, indeks dolar AS menguat ditopang data PMI Komposit AS yang melonjak ke level tertinggi lima tahun di angka 58,4, klaim pengangguran AS yang turun ke 197.000, serta sinyal hawkish pejabat The Fed mengenai potensi kenaikan suku bunga lanjutan.
Namun, eskalasi tensi geopolitik tertahan oleh upaya diplomasi AS-Iran untuk membuka Selat Hormuz serta perpanjangan gencatan senjata perdagangan AS-China hingga 10 Januari 2027.
Dari dalam negeri, kolaborasi fiskal dan moneter antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia melalui lima langkah strategis, termasuk pendalaman pasar keuangan dan pengelolaan likuiditas berhasil menopang stabilitas mata uang Garuda.
“Untuk perdagangan Senin depan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.900—Rp17.950 per dolar AS,” ujarnya, Jumat (25/9/2026).***
Editor: M. Nabil
(Aab)