Bisnisnews.net – Upaya membangun pemahaman tentang kesetaraan gender terus dilakukan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi. Salah satunya melalui program Cerita Tentang Gender atau Cager yang kini memasuki episode kedua.
Pada episode kali ini, Cager mengangkat persoalan kebebasan berekspresi sekaligus mengajak masyarakat meninggalkan stigma dan stereotip yang kerap dilekatkan berdasarkan jenis kelamin.
Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, mengatakan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk mengembangkan kemampuan, menyampaikan pendapat, serta mengekspresikan perasaan.
Menurutnya, pemahaman mengenai kesetaraan tersebut perlu diperkenalkan sejak anak masih berada pada usia dini. Sebab, pola pikir yang terbentuk di lingkungan keluarga maupun sekolah dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya dan orang lain.
“Anak-anak perlu diajarkan sejak dini bahwa mereka bebas mengekspresikan diri tanpa dibatasi oleh jenis kelamin. Lingkungan keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman tersebut,” ujar Agus, Selasa (2/6/2026).
Agus mencontohkan salah satu bentuk stigma yang masih sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, yakni anggapan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis atau menunjukkan rasa sedih karena dianggap harus selalu kuat.
Padahal, menurutnya, kemampuan mengekspresikan emosi merupakan bagian penting dalam tumbuh kembang anak dan tidak semestinya dibatasi oleh konstruksi gender.
Pendidikan dan Pola Asuh Jadi Fondasi
Agus menegaskan, kesetaraan gender bukan sekadar pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Lebih dari itu, kesetaraan berarti memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk belajar, berkembang, berpartisipasi, dan mendapatkan penghargaan.
Karena itu, keluarga dan institusi pendidikan dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun lingkungan yang tidak diskriminatif.
Nilai-nilai kesetaraan yang ditanamkan sejak dini diharapkan mampu membentuk generasi yang terbuka terhadap perbedaan serta mampu menghormati hak dan pilihan orang lain.
“Terciptanya lingkungan yang bebas dari diskriminasi harus dimulai dari pendidikan dan pola asuh yang menanamkan nilai-nilai kesetaraan sejak usia dini,” tegasnya.
Melalui program Cager, DP3A Kabupaten Sukabumi berupaya menghadirkan edukasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Program tersebut diharapkan dapat membantu mengubah cara pandang terhadap peran laki-laki dan perempuan, terutama dalam lingkungan keluarga dan sekolah.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong terciptanya masyarakat Kabupaten Sukabumi yang semakin inklusif, adil, dan memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang tanpa dibatasi stigma berbasis gender.***
Editor : M. Nabil
(IFU)