Bisnisnews.net – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Pangleseran, Kabupaten Sukabumi, mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan terutama terjadi pada komoditas daging ayam dan beras yang mulai berdampak terhadap daya beli masyarakat serta omzet pedagang.
Kondisi tersebut terlihat pada Sabtu (05/9/2026). Pedagang mengaku harus menghadapi kenaikan harga komoditas di tengah menurunnya jumlah pembeli.
Salah seorang pedagang ayam di Pasar Pangleseran, Dede (34), pemilik Kios Ayam Maju Kang Burhan, mengatakan harga daging ayam saat ini mencapai sekitar Rp40-42 ribu per kilogram. Harga tersebut meningkat dibandingkan harga normal yang berada di kisaran Rp35.000 per kilogram.
Menurut Dede, kenaikan harga dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan ayam serta meningkatnya harga pakan. Kondisi itu membuat ketersediaan ayam di pasar menjadi lebih terbatas.
“Pasokan lebih sedikit, harga pakan naik, jadi langka. Ditambah karena adanya MBG,” ujar Dede.
Kenaikan harga tersebut turut dirasakan konsumen. Dede menyebut jumlah pembeli mengalami penurunan karena sebagian masyarakat mengeluhkan harga ayam yang semakin tinggi.
Penurunan jumlah pembeli pun berdampak terhadap penjualan. Saat harga ayam berada di kisaran Rp42.000 per kilogram, penjualan di kiosnya sekitar 150 ekor per hari. Sementara ketika harga masih normal, penjualan dapat mencapai sekitar 200 ekor per hari.
Dede yang telah menjalankan usaha sejak 2008 berharap harga daging ayam kembali stabil di kisaran Rp35.000 per kilogram. Menurutnya, harga yang lebih terjangkau akan membantu meningkatkan kembali daya beli masyarakat.
Kondisi serupa terjadi pada komoditas beras. Ani (32), pengelola Toko PD Barokah di Pasar Pangleseran, mengatakan harga beras premium saat ini mencapai Rp15.000 per kilogram. Sementara beras standar berada di kisaran Rp14.500 per kilogram.
Sebelumnya, harga beras premium berada di kisaran Rp14.000 per kilogram.
Ani menyebut musim kemarau dan terbatasnya pasokan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga beras. Selain itu, menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga turut memberikan pengaruh terhadap kondisi pasokan di pasar.
Kenaikan harga membuat konsumen mulai menyesuaikan pilihan. Sebagian pembeli yang sebelumnya terbiasa membeli beras premium kini memilih beras standar karena harganya relatif lebih terjangkau.
“Sebagian tetap memilih premium, sebagian memilih yang biasa karena lebih murah,” kata Ani.
Dari sisi penjualan, Toko PD Barokah yang telah menjadi usaha turun-temurun selama sekitar 30 tahun juga mengalami penurunan aktivitas perdagangan. Dalam kondisi sepi, penjualan hanya berada di kisaran 30 hingga 35 karung per hari. Sementara saat kondisi pasar ramai, penjualan dapat mencapai sekitar 100 karung per hari.
Ani berharap harga beras kembali normal sehingga tidak semakin membebani masyarakat. Ia juga berharap stabilisasi harga terjadi pada berbagai kebutuhan pokok lainnya, termasuk sayuran dan daging.
“Harapannya harga kembali normal. Bukan hanya beras, harga yang lain juga, termasuk sayuran dan daging yang sudah mahal,” ujarnya.
Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Pangleseran menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang maupun konsumen. Di satu sisi, konsumen harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, pedagang menghadapi penurunan daya beli yang berdampak langsung terhadap omzet.
Para pedagang berharap pasokan berbagai komoditas segera kembali normal sehingga harga kebutuhan pokok dapat lebih stabil dan daya beli masyarakat kembali meningkat.***
Editor : M. Nabil
(IFU)