Bisnisnews.net – Penanggung Jawab Aksi Bidang Hukum Aliansi Masyarakat Peduli Makan Bergizi Gratis (MBG) Sukabumi Raya, Muhammad Rafi’i Nasution, angkat bicara terkait ramainya isu peserta aksi dukungan MBG yang disebut menerima bayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Menurut Rafi’i, pihaknya tidak memiliki bukti maupun data yang dapat digunakan untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar di masyarakat. Karena itu, ia menilai tudingan tersebut tidak dapat disimpulkan begitu saja.
“Kita tidak bisa membuktikan bahwa yang dibayar itu settingan atau benar-benar dibayar. Itu yang pertama,” kata Rafi’i kepada awak media usai aksi damai di depan Gedung DPRD Kota Sukabumi, Selasa (24/6/2026).
Ia menegaskan, aksi yang digelar ribuan warga di Sukabumi merupakan bentuk dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dukungan tersebut, kata dia, muncul dari berbagai kelompok masyarakat yang ingin melihat program tersebut terus berjalan.
Rafi’i menilai masyarakat memiliki hak untuk mengawal kebijakan pemerintah yang dianggap membawa dampak positif. Salah satunya Program MBG yang saat ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah pusat.
Dalam keterangannya, ia juga mengaitkan dukungan terhadap program tersebut dengan mandat politik yang diperoleh Presiden Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden lalu. Menurutnya, para pendukung Prabowo memiliki tanggung jawab moral untuk turut mengawal pelaksanaan program-program yang dijanjikan kepada masyarakat.
“Siapa yang tidak menyukai program MBG ini adalah orang-orang yang tidak memilih Bapak Prabowo. Lima puluh delapan persen suara Bapak Prabowo menang di Indonesia dan kita sebagai pendukung wajib mendukung program-program yang sudah diberikan oleh Bapak Prabowo, dibuktikan oleh Bapak Prabowo sesuai dengan misi-misinya,” ujarnya.
Selain aspek pemenuhan gizi, Rafi’i menilai Program MBG juga memiliki dampak ekonomi yang cukup luas. Ia menyebut keberadaan dapur-dapur MBG telah menciptakan aktivitas ekonomi baru yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Menurutnya, manfaat tersebut dirasakan mulai dari penyedia bahan baku, petani, nelayan, pelaku usaha hingga pengemudi ojek yang turut mendukung operasional program.
“Kami menjaga, kita menjaga sebagai rakyat. Dengan adanya dapur MBG, semua diuntungkan, termasuk tukang ojek. Kenapa tukang ojek diuntungkan? Mengantar para relawan ke dapur, itu tukang ojek juga diuntungkan,” katanya.
Ia menambahkan, rantai pasok yang tercipta dari kebutuhan dapur MBG turut memberikan peluang ekonomi bagi banyak pihak.
“Semua, para supplier, petani, nelayan, semua diuntungkan karena adanya dapur. Di mana salahnya?” lanjutnya.
Rafi’i menegaskan apabila terdapat penyimpangan dalam pelaksanaan program, maka yang harus menjadi fokus penindakan adalah oknum yang melakukan pelanggaran, bukan menghentikan program secara keseluruhan.
“Salahnya adalah otak oknum yang korupsi. Jadi, apabila ada nyamuk di dalam kelambu, maka nyamuknya yang harus dibunuh, bukan kelambu yang harus dibakar,” tegasnya.
Sebelumnya, sekitar 5.000 massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli MBG Sukabumi Raya menggelar aksi damai untuk mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis. Massa berkumpul di Lapang Merdeka sebelum melakukan long march menuju Gedung DPRD Kota Sukabumi.
Aksi tersebut diisi dengan doa bersama, penyampaian aspirasi serta audiensi dengan perwakilan DPRD Kota Sukabumi. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung kondusif dan berakhir sekitar pukul 11.30 WIB.***(RAF)
Editor : M. Nabil