Bisnisnews.net – Kamis 11/6/2026, bibir Pantai Muara Citepus, Palabuhanratu, berubah jadi lautan manusia. Ratusan warga lintas usia memadati muara sejak pagi. Mereka datang dengan satu tujuan sama: memburu ikan impun, ikan kecil seukuran kelingking yang sedang migrasi dari laut ke sungai.
Warga menyebutnya “emas perak” musiman. Bukan karena harganya mahal, tapi karena kehadirannya langka dan selalu dinanti. Saat pasang laut mencapai puncak, jutaan ikan impun berbondong-bondong masuk muara. Momen itu hanya datang sebulan sekali, kadang dua bulan sekali, sesuai penanggalan Hijriah.
Tradisi ini sudah jadi bagian hidup warga Citepus. Tanpa undangan, tanpa pengeras suara, orang-orang tahu sendiri kapan waktunya turun ke muara. Bawa sirib, bawa ember, lalu duduk menunggu arus. Kesabaran diuji, tapi hasilnya sering membayar lunas.
Sirib jadi senjata utama. Jala kotak dari benang nilon yang direntang bambu silang itu direndam di air dangkal. Sekali angkat, kalau beruntung, jaring penuh ikan berkilau. Butuh mata jeli dan tangan cepat. Telat sedetik, ikan keburu lolos dibawa arus.
Sutisna, (42), warga asli Citepus, sudah turun sejak subuh. Baginya ini rezeki yang tidak bisa diprediksi. “Alhamdulillah hari ini impunnya lumayan banyak. Musimnya tidak pasti. Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan baru nongol lagi,” katanya sambil meniriskan sirib.
Hasil buruan langsung jadi lauk. Di dapur warga, ikan impun paling cocok dipepes pakai daun pisang atau dikrecek pedas. Gurih, lembut, dan tidak amis. Kalau tangkapan berlebih, warga menjualnya ke tetangga. Harga bersahabat, yang penting berkah dibagi.
“Biasanya buat makan keluarga dulu. Pepes atau dikrecek paling enak. Kalau lebih, ya dijual ke tetangga,” ujar Sutisna. Baginya, ikan kecil ini menjaga dapur tetap ngebul saat harga bahan pokok lagi naik.
Lebih dari sekadar urusan perut, tradisi ini menjaga ketahanan pangan lokal. Warga pesisir tidak sepenuhnya bergantung pada pasar. Ketika alam memberi, mereka ambil secukupnya. Tidak ada bom, tidak ada racun. Hanya sirib dan pasang.
Diam-diam, aktivitas ini jadi atraksi wisata. Wisatawan yang datang ke Palabuhanratu ikut berhenti di Muara Citepus. Mereka foto, video, dan kagum melihat warga berbaris rapi sepanjang muara. Pemandangan sederhana, tapi punya nilai budaya tinggi.
Anak-anak sampai orang tua semua ikut. Ada yang bantu mengangkat sirib, ada yang jaga ember. Suasana riuh tapi akur. Tidak ada rebutan, karena semua paham: rezeki laut dibagi rata. Kearifan lokal itu masih hidup di sini.
Hingga sore, kerumunan belum bubar. Arus pasang masih membawa gerombolan impun. Tawa warga pecah setiap kali sirib terangkat penuh. Muara Citepus sore itu bukan cuma muara, tapi panggung tradisi yang hidup.
“Emas perak” musiman ini mengingatkan kita: alam memberi waktu. Tugas manusia menjaga ritmenya. Selama warga Palabuhanratu tetap merawat laut dan tradisi, berkah seperti ikan impun akan terus datang. Pangan aman, budaya jalan, wisata pun ikut hidup.***
Editor : M. Nabil
(Yosep)