Bisnisnews.net – Istilah _brain rot_ kini sering muncul untuk menggambarkan kondisi otak yang lelah karena terlalu banyak menyerap konten digital yang cepat, dangkal, dan berulang. Fenomena ini bukan lagi sekadar candaan internet, tapi mulai diteliti serius oleh psikolog dan akademisi.
Data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Studi dari Universitas Yale tahun 2025 mencatat lonjakan gangguan kognitif pada usia 18-34 tahun dalam sepuluh tahun terakhir. Sulit fokus, mudah lupa, dan daya konsentrasi yang menurun kini dialami hampir dua kali lipat dibanding dekade lalu.
Perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari cara anak muda mengonsumsi informasi. Video pendek, meme, dan scroll tanpa henti membuat otak terbiasa pada rangsangan instan. Aktivitas yang butuh waktu dan kesabaran seperti membaca buku atau diskusi panjang jadi terasa melelahkan.
Dr. Julia Kogan, psikolog yang meneliti perilaku digital, menyebut salah satu tanda paling umum adalah ketidakmampuan melepaskan ponsel. Meski tidak ada notifikasi penting, tangan tetap bergerak membuka aplikasi secara otomatis. Pola ini membuat otak terus berada dalam mode siaga yang melelahkan.
Dampaknya tidak berhenti di pikiran. Gangguan tidur, mata perih, sakit kepala, hingga penurunan kualitas interaksi sosial mulai muncul. Banyak anak muda aktif di dunia maya, tapi justru canggung dan pasif saat bertemu langsung.
Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang paling rentan. Dr. Melly Latifah dari IPB University mencatat, paparan layar berlebihan bisa menghambat perkembangan emosi dan bahasa. Anak yang terlalu lama di depan layar sering menunjukkan kosakata yang menyusut dan konsentrasi yang mudah buyar.
Pada usia sekolah dasar, gejalanya terlihat dari penurunan prestasi belajar. Sementara di usia remaja, komunikasi sehari-hari mulai dipenuhi singkatan, meme, dan respon singkat tanpa konteks. Bahasa yang dulu dipakai untuk berdiskusi panjang kini menyusut jadi beberapa kata.
Para ahli menekankan bahwa ini bukan soal anti teknologi. Internet dan media sosial punya manfaat besar untuk belajar dan bekerja. Masalahnya muncul ketika konsumsi konten tidak punya batas dan kendali.
Membatasi waktu layar, memperbanyak aktivitas fisik, membaca buku, dan mempertemukan anak dengan interaksi langsung disebut sebagai langkah pencegahan yang efektif. Otak butuh istirahat dari informasi cepat agar bisa kembali berpikir dalam.
Di tengah ekonomi perhatian yang membuat platform berlomba merebut waktu kita, kemampuan mengendalikan diri jadi keterampilan baru yang penting. Tanpa itu, generasi muda berisiko kehilangan kemampuan dasar: fokus, berpikir kritis, dan membangun hubungan nyata.***
Editor : M. Nabil
(DH)