Takdir, Kecelakaan, dan Ruang yang Masih Bisa Kita Jaga

Date:

Bisnisnews.net – Kematian adalah satu-satunya hal pasti yang menanti setiap manusia. Karena itu, banyak orang menyebut kecelakaan dan kematian sebagai takdir yang tidak bisa dihindari. Kalimat itu sering muncul ketika kabar duka datang tiba-tiba.

Bagi sebagian orang, memahami kematian sebagai bagian dari takdir memberi rasa lega. Ada ketenangan saat menyadari bahwa tidak semua hal bisa dipaksa berjalan sesuai keinginan. Rasa kehilangan tetap ada, tapi beban menyalahkan diri sendiri bisa berkurang.

Namun pandangan tentang takdir tidak pernah berdiri sendiri. Dalam banyak ajaran, takdir berjalan bersama ikhtiar. Manusia diberi akal dan kemampuan untuk memilih tindakan yang menjaga keselamatannya. Di sinilah ruang kebebasan itu muncul.

Kecelakaan di jalan, misalnya, jarang terjadi tanpa penyebab. Kecepatan berlebih, kurang tidur, ponsel di tangan, atau kondisi kendaraan yang tidak layak sering menjadi pemicu. Artinya, ada faktor yang bisa dikurangi jika manusia mau lebih berhati-hati.

Menerima takdir bukan berarti menyerah pada risiko. Justru kesadaran bahwa hidup terbatas seharusnya membuat seseorang lebih waspada. Memakai helm, mengecek rem, istirahat cukup sebelum berkendara, semua itu adalah bentuk hormat pada hidup sendiri.

Dari sisi psikologi, menerima keterbatasan kontrol membantu mengurangi kecemasan. Kita tidak bisa menjamin esok hari, tapi kita bisa memastikan hari ini dijalani dengan keputusan yang lebih aman. Fokus pada yang bisa dikontrol membuat pikiran lebih tenang.

Masalah muncul ketika konsep takdir dipahami secara fatalistik. Sikap “sudah digariskan, jadi biar saja” bisa mematikan rasa tanggung jawab. Padahal, tanggung jawab itu sendiri adalah bagian dari cara manusia menghargai waktu yang tersisa.

Filsuf sering mengingatkan: bedakan antara yang bisa diubah dan yang tidak. Kamu tidak bisa menghentikan hujan, tapi kamu bisa memilih untuk tidak berkendara saat hujan deras. Di celah kecil itulah manusia menjalankan perannya.

Jadi, kecelakaan dan kematian memang bagian dari kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari sepenuhnya. Tapi cara kita merawat diri, menjaga orang lain, dan membuat keputusan setiap hari masih berada dalam genggaman kita.

Pada akhirnya, takdir mengajarkan penerimaan, sementara ikhtiar mengajarkan tanggung jawab. Keduanya tidak bertentangan. Justru keduanya saling melengkapi agar manusia bisa hidup dengan tenang sekaligus bijaksana.***

Editor : M. Nabil

(Aab)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Tiga Tipe Manusia dalam Menghadapi Ilmu: Dari Lalai hingga Bertanggung Jawab

Bisnisnews.net – Setiap orang punya cara berbeda dalam menyikapi...

Generasi Scroll: Ketika Fokus Mudah Hilang di Era Konten Pendek

Bisnisnews.net – Istilah _brain rot_ kini sering muncul untuk...

Audiensi FSBB di DPRD Kota Banjar Bahas Dugaan Pelanggaran Hak Buruh dan Evaluasi Disnaker

Bisnisnews.net - Forum Solidaritas Buruh Banjar (FSBB) menggelar audiensi...

Menghidupkan Kembali Binar Kulit Usia 40-an Lewat Nutrisi dan Ketenangan Batin

Bisnisnews.net – Memasuki usia 40-an sering dianggap masa puncak...