Harga Plastik Global Melambung, Industri dan UMKM Jawa Barat Terhimpit

Date:

Bisnisnews.net || Gejolak harga plastik global kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas industri di Jawa Barat (Jabar). Kenaikan yang dipicu oleh gangguan pasokan internasional, tekanan nilai tukar rupiah, serta faktor geopolitik mulai merambat ke sektor produksi, terutama menghimpit pelaku UMKM yang sangat bergantung pada bahan baku tersebut.

Kondisi ini menelanjangi persoalan mendasar berupa tingginya ketergantungan terhadap impor plastik. Selama ini, impor dianggap sebagai opsi paling efisien, namun kini justru menjadi titik lemah bagi ketahanan industri daerah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar, Nining Yuliastiani, mengungkapkan bahwa meskipun bukan komoditas impor terbesar, plastik memegang peran vital dalam struktur industri. Dalam catatan perdagangan, impor plastik Jabar berada di kisaran 8 hingga 9 persen setiap tahunnya.

“Memang tidak terlalu dominan, tetapi cukup signifikan karena plastik menjadi bahan baku penting bagi banyak industri,” ujar Nining, Kamis (9/4/2026).

Guncangan rantai pasok terjadi saat negara pemasok utama seperti Cina, Vietnam, Thailand, dan Malaysia mulai membatasi ekspor demi kebutuhan domestik mereka. Akibatnya, harga di dalam negeri melonjak tajam, diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang melambungkan biaya operasional.

“Kenaikan harga plastik ini menjadi masalah bersama karena plastik dibutuhkan hampir di semua sektor industri dan UMKM. Jika tidak ada langkah penanganan tertentu, kondisi ini bisa sangat mengganggu kegiatan produksi,” ucap Nining menambahkan.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menggeser strategi dengan mendorong diversifikasi sumber impor ke negara alternatif seperti Amerika Serikat dan India. Pemprov juga menyiapkan skema business matching untuk mempertemukan pelaku industri lokal dengan produsen baru.

Selain mencari pasokan luar, pemerintah mulai melirik bahan substitusi ramah lingkungan, seperti plastik berbasis jagung dan singkong. Momentum kenaikan harga plastik konvensional dinilai menjadi peluang bagi produk lokal ini untuk bersaing.

“Selama ini produk tersebut kurang kompetitif karena harganya lebih mahal dibanding plastik konvensional. Namun dengan kenaikan harga plastik saat ini, bahan alternatif tersebut berpotensi menjadi pilihan yang lebih kompetitif bagi industri,” jelasnya.

Di sisi hilir, Disperindag Jabar terus memantau pergerakan harga dan stok di pasar. Pelaku usaha didorong untuk melakukan efisiensi melalui optimalisasi desain kemasan serta memperluas pemanfaatan plastik daur ulang sebagai solusi bahan baku yang lebih terjangkau.

Dari sisi konsumsi, kampanye pengurangan plastik sekali pakai dan sistem isi ulang (refill) kembali digencarkan. Pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota juga tengah menyiapkan penguatan regulasi pembatasan plastik sekali pakai di pusat-pusat perdagangan.

Lonjakan harga ini menjadi sinyal keras bagi industri di Jawa Barat untuk segera melakukan transformasi menyeluruh, mengurangi kerentanan terhadap pasar global, dan memperkuat kemandirian bahan baku dari hulu hingga hilir.***

Editor : M. Nabil

(Sule)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Anggota DPRD Kota Sukabumi Kritik Penurunan Bantuan Pemprov Jabar, Soroti Dampaknya ke Program Daerah

Bisnisnews.net – Anggota DPRD Kota Sukabumi, Henry Slamet, menilai...

Ribuan Bobotoh Tumpah Ruah di Sukabumi, Rayakan Persib Juara Super League 2025/2026

Bisnisnews.net – Perayaan keberhasilan Persib Bandung menjuarai Super League...

Diduga Mengamuk dan Bawa Golok, Pemuda di Kebonpedes Sukabumi Lukai Warga dan Rusak Rumah

Bisnisnews.net – Seorang pemuda berinisial NY alias D (25)...

Wabup Andreas Hadir, Warga Nagrak Dapat Banyak Kejutan

Bisnisnews.net - Wakil Bupati Sukabumi H Andreas menghadiri pembukaan...