Bisnisnews.net || Pasar Lembursitu di kawasan Pelabuhan II, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, sempat menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan yang cukup ramai beberapa tahun lalu. Pasar ini menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat Kota maupun Kabupaten Sukabumi untuk berbelanja, terutama bagi mereka yang merasa Pasar Pelita dan Pasar Gudang terlalu jauh.
Ramainya aktivitas perdagangan di pasar tersebut bahkan pernah menarik perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Melalui program Pasar Rakyat Jabar Juara, Pemprov Jabar mengalokasikan anggaran sebesar Rp10 miliar untuk merevitalisasi Pasar Lembursitu agar lebih layak dan tertata.
Pasar yang telah direnovasi itu kemudian diresmikan pada Sabtu, 8 Januari 2022. Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Ridwan Kamil, bersama Atalia Praratya dan didampingi Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi.
Meski telah tampil dengan wajah baru yang lebih tertata dan bersih, kenyataannya hal tersebut belum mampu meningkatkan kembali aktivitas perdagangan di pasar tersebut. Sekitar satu tahun setelah diresmikan, jumlah pengunjung mulai menurun sehingga banyak pedagang memilih meninggalkan kios mereka.
Selama hampir tiga tahun terakhir, kondisi Pasar Lembursitu pun cenderung sepi aktivitas. Pasar yang dahulu menjadi tempat bertemunya pedagang dan pembeli kini lebih banyak dipenuhi kios kosong.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Kota Sukabumi, Een Rukmini, mengungkapkan salah satu penyebab utama menurunnya aktivitas di pasar tersebut adalah perpindahan jalur angkutan umum mobil Elf jurusan Pajampangan ke Terminal Tipe C Sukabumi.
“Informasi dari para pedagang, sejak mobil Elf dipindahkan ke Terminal Tipe C, jumlah penumpang yang melintas di sekitar pasar berkurang. Karena itu muncul permohonan agar angkutan umum kembali diarahkan masuk ke area pasar,” ujar Een, Kamis (5/3/2026).
Sebelumnya, Pasar Lembursitu memang dikenal sebagai salah satu titik transit mobil Elf rute Pajampangan menuju Kota Sukabumi. Pemerintah Kota Sukabumi kini berencana mengembalikan fungsi tersebut agar aktivitas pasar dapat kembali hidup.
Selain mobil Elf, angkutan kota trayek 03 jurusan Lembursitu–Odeon yang menjadi penghubung penumpang juga direncanakan kembali berhenti atau ngetem di kawasan pasar.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait, khususnya Dinas Perhubungan Kota Sukabumi. Hal ini dilakukan agar penataan jalur angkutan tidak menimbulkan kemacetan di sekitar lokasi.
“Selama ini angkot berhenti di pinggir jalan. Ke depan rencananya akan diarahkan masuk ke dalam area pasar, begitu juga dengan mobil Elf sehingga bisa memutar dan melintas dari area tersebut,” jelasnya.
Selain penataan transportasi, pemerintah juga akan melakukan sejumlah pembenahan fasilitas di kawasan pasar. Saat ini Pasar Lembursitu memiliki 53 kios dan 26 los yang akan kembali dioptimalkan pemanfaatannya.
Beberapa perbaikan yang direncanakan antara lain pemasangan kanopi atau awning untuk tempat menunggu penumpang, serta pengaspalan area parkir guna meningkatkan kenyamanan pedagang dan pengunjung.
“Kami akan menyesuaikan perbaikan dengan kebutuhan. Pak Wali Kota juga telah menginstruksikan agar area parkir segera diaspal supaya aktivitas di pasar lebih nyaman,” kata Een.
Di sisi lain, Diskumindag juga berencana menjalin komunikasi dengan para distributor atau bandar besar agar harga sejumlah komoditas di Pasar Lembursitu bisa lebih kompetitif dibandingkan pasar lainnya.
“Saya juga akan berkoordinasi dengan para pelaku usaha atau distributor agar memungkinkan harga barang di sini lebih murah dibandingkan di pasar lain sehingga menarik minat pembeli,” tambahnya.
Sebagai langkah awal untuk menghidupkan kembali pasar, Pemerintah Kota Sukabumi saat ini tengah menggencarkan promosi Pasar Lembursitu. Pendaftaran bagi para pedagang juga telah dibuka, baik melalui media sosial maupun secara langsung di lokasi pasar.
Selain itu, upaya reaktivasi juga dilakukan dengan menggelar kegiatan Festival Ekonomi Semesta (Festa) selama bulan Ramadan yang dapat diikuti pedagang secara gratis.
“Kami buka pendaftaran terlebih dahulu. Jika kios sudah terisi, aktivitas bisa langsung berjalan sambil menunggu akses angkutan umum kembali normal. Untuk biaya sewanya juga terjangkau, kios paling mahal sekitar Rp3 juta per tahun atau sekitar Rp8 ribu per hari, sedangkan los hanya Rp2 ribu per hari,” pungkasnya.***(RAF)
Editor : M. Nabil