Oleh: Yosep Maulana/ Ketua Forum Mahasiswa Palabuhanratu
Bisnisnews.net || Di tengah pertumbuhan jumlah pelaku usaha yang terus meningkat, tidak sedikit bisnis yang harus berhenti di tengah jalan. Produk bagus dan strategi pemasaran agresif ternyata belum cukup menjamin keberlanjutan usaha. Sejumlah pengamat menilai, kegagalan tersebut kerap berakar pada satu hal mendasar: tidak adanya kejelasan tujuan atau why dalam membangun bisnis.
Konsep ini sejalan dengan teori Golden Circle yang diperkenalkan penulis dan pakar kepemimpinan Simon Sinek dalam buku start with why. Dalam konsep tersebut, terdapat tiga lingkaran utama, yakni Why, How, dan What. Why berbicara tentang alasan dan keyakinan, How menjelaskan cara atau nilai pembeda, sementara What adalah produk atau layanan yang dijual.
Namun dalam praktiknya, banyak pelaku usaha justru memulai dari what, apa yang sedang tren dan berpotensi mendatangkan keuntungan cepat tanpa terlebih dahulu merumuskan why. Akibatnya, bisnis mudah kehilangan arah ketika menghadapi tekanan pasar atau perubahan kondisi ekonomi.
Konsumen Membeli Nilai, Bukan Sekadar Produk
Perubahan perilaku konsumen turut memperkuat pentingnya konsep why. Saat ini, konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga dan kualitas, tetapi juga nilai yang dibawa sebuah merek. Bisnis yang memiliki tujuan jelas dinilai lebih autentik dan dipercaya.
Contohnya dapat dilihat pada usaha yang mengusung misi keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, atau inovasi sosial. Meski bersaing di pasar yang sama, bisnis dengan why yang kuat cenderung memiliki basis pelanggan yang lebih loyal karena mampu membangun keterikatan emosional.
Golden Circle dalam Kehidupan Nyata
Prinsip Golden Circle tidak hanya berlaku dalam dunia bisnis, tetapi juga kehidupan sehari-hari. Seseorang yang memahami mengapa ia bekerja atau berusaha akan lebih konsisten dan tahan menghadapi tekanan. Sebaliknya, ketika tujuan hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, motivasi mudah luntur saat menghadapi kegagalan.
Dalam konteks organisasi, kejelasan why juga berpengaruh pada kinerja tim. Karyawan yang memahami tujuan besar perusahaan cenderung bekerja dengan keterlibatan yang lebih tinggi dibanding mereka yang hanya menjalankan tugas rutin.
Kompas di Tengah Ketidakpastian
Kondisi ekonomi yang dinamis menuntut bisnis untuk terus beradaptasi. Strategi pemasaran bisa berubah, produk dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar, namun why seharusnya tetap menjadi kompas utama.
Bisnis yang memulai dari why dinilai lebih siap menghadapi krisis karena memiliki arah yang jelas dalam setiap pengambilan keputusan. Inilah yang membedakan bisnis yang hanya bertahan sesaat dengan usaha yang mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, pertanyaan sederhana mengapa bisnis ini dijalankan? justru menjadi faktor krusial yang menentukan masa depan sebuah usaha.***
Editor : Aab Abdul Malik